Image

Lonjakan Berkah Lebaran Pebisnis Online

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 18 Juni 2017 13:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 18 320 1719123 lonjakan-berkah-lebaran-pebisnis-online-P3jmJYKxTm.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Ramadan dan Lebaran 2017 ini menjadi berkah bagi pebisnis online atau market place. Pasalnya mereka bukan hanya menikmati lonjakan pembeli bila dibandingkan dengan hari-hari biasa, tapi juga berhasil merebut separuh porsi belanja tunjangan hari raya (THR), terutama untuk belanja kebutuhan Idul Fitri.

Tanpa harus terkena macet, berdesak-desakan, dan menunggu antrean di kasir antara lain merupakan alasan melonjaknya belanja online. Panen raya yang dinikmati marketplace merupakan hasil survei yang digelar sejumlah marketplace nasional.

Salah satunya survei yang dilakukan Lazada.co.id terhadap lebih dari 1.000 responden di sejumlah kota besar di Jawa, Bali, Sulawesi,dan Sumatera. Hasilnya, 85% responden memilih membeli kebutuhan rumah tangga untuk Idul Fitri secara online. Mereka adalah masyarakat urban yang berbelanja online minimal dua kali dalam sepekan. Sebagian besar dari responden mengalokasikan 50% dari THR untuk berbelanja secara online. Temuan juga menyebutkan, 72% responden mengalokasikan anggaran khusus untuk berbelanja online selama Ramadan 1438 H dan sebanyak 57% responden membeli secara online setidaknya 1 dari 10 barang yang dibutuhkan saat Ramadan.

“Adapun barang yang paling banyak dicari dan dibeli selama Ramadan dan menjelang Lebaran adalah produk-produk busana serta rumah tangga untuk menunjang perayaan Idul Fitri seperti toples kue, seprei, keset, taplak meja, gorden, dan lainnya,” ujar Head of Online Marketing Lazada Indonesia Haikal Bekti.

Marketplace lainnya, Elevenia, juga mencatat lonjakan antusiasme masyarakat untuk berbelanja secara online selama Ramadan. Perusahaan e-commerce ini bahkan mengalami peningkatan transaksi mencapai dua kali lipat memasuki Ramadan 1438 H.

Waktu paling favorit untuk berbelanja bagi konsumen mereka adalah waktu ngabuburit antara pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. GM Strategy & Communication Elevenia Bayu S Tjahjono mengungkapkan, angka ini terus meningkat hingga dua pekan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun sepekan menjelang Lebaran, transaksi diperkirakan cenderung menurun hingga 50% lantaran sudah memasuki masa mudik.

“Transaksi di Elevenia diperkirakan akan kembali melonjak sepekan setelah hari raya. Peningkatannya bahkan diprediksi bisa mencapai hampir tiga kali lipat,” sebut Bayu.

Lonjakan transaksi e-commerce juga terjadi di situs Bukalapak. com. Co-Founder dan CFO Bukalapak Muhammad Fajrin Rasyid mengungkapkan, peningkatan transaksi selama tiga pekan Ramadan 2017 sudah mencapai 30% bila dibandingkandenganhari- haribiasadiluar bulan puasa. Dia memprediksi transaksi terus meningkat mendekati Lebaran. Angka kenaikannya bahkan bisa menembus 50-100%.

“Jenis barang yang paling anyak dibeli secara online pada Ramadan adalah busana, makanan, danbarangelektronik seperti ponsel,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Google Indonesia dalam E-Commerce Insight 2017, pada Ramadantahunlalupencarianterkait belanja online memuncak bila dibandingkan dengan bulanbulan lain dan terus meninggi hingga seminggu sebelum Idul Fitri. Selama Ramadan 2016, pencarian busana muslim melonjak hampir tiga kali lipat dan alat rumah tangga dua kali lipat. Pencarian menurun di hari-hari terakhir Ramadan. “Dalam satu tahun, hanya di bulanpuasapencarianyangberujung pada pembelian barang online memuncak. Mereka yang biasanya tidak berbelanja online membeli sesuatu dari internet pada Ramadan,” terang Headof E-Commerce Google Indonesia Henky Prihatna.

Pada tahun lalu, April dan Mei merupakan bulan terbanyak orang mengajukan permohonan kartu kredit. Adapun pada pekan ketiga Ramadan, masyarakat mulai mencari promosi kartu kredit dan cicilan dari bank. Penelusuran terkait pembayaran lewat cicilan pada 2016 meningkat 1,6 kali lipat, sementara promo kartu kredit meningkat 1,2 kali lipat. General Manager Asia Tenggara Criteo, Alban Villani, mengatakan, berdasarkan data tahun sebelumnya, terjadi peningkatan aktivitas browsing dan belanja online konsumen pada tiga minggu menjelang Ramadan. Terutama pada minggu ketiga Ramadan.

“Ini merupakan kesempatan terbesar bagi peritel untuk berinteraksi dengankonsumenyangsedangaktif berbelanja untuk keperluan perayaan Idul Fitri. Terjadi peningkatan rata-rata sebesar 67% dalampenjualanritel online dan 14% dalam penjualan travel online,” paparnya.

Criteo merupakan perusahaan periklanan digital global yang bermarkas di Paris. Data dari Criteo juga mengungkapkan, tradisi selama Ramadan memengaruhi perilaku pembeli sepanjang hari. Pada siang hari selama Ramadan, transaksi e-commerce menjadi 71%. Lebih rendah daripada periode sebelum Ramadan yang mencapai 76%.

Namun penjualan e-commerce setelah berbuka puasa menjadi 29%, lebih tinggi daripada sebelum Ramadan yang sebesar 24%. Villani mengaku Criteo menganalisis lebih dari 8 juta transaksi online dari 143 peritel di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hasilnya adalah trafik website dan penjualan e-commerce meningkat sejak tiga minggu sebelum Ramadan. Melonjak selama minggu ketiga dan keempat dengan perkiraan peningkatan masing-masing 110% dan 77%. Memasuki masa Idul Fitri, ada penurunan sebesar 44% pada penjualan online dan 20% pada trafik website.

Namun di minggu pertama Idul Fitri, penjualan online kembali meningkat sebesar 35%. Produk-produk yang ada kaitannya dengan fashion paling populer selama periode ini. Diikuti produk-produk home and living serta produk elektronik, mainan, dan game. Terakhir adalah produk kesehatan dan kecantikan.

NadiaYovani, staf pengajar di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, menilai masyarakat urban semakin banyak yang berbelanja secara online karena mereka ingin segalanya lebih simpel dan instan. Melalui belanja online masyarakat juga bisa lebih berhemat. “Itu sifat alami manusia. Tak perlu bermacet- macetan, tak perlu keluar uang untuk beli bensin atau ongkos, tak perlu berkeliling toko mencari barang paling cocok, dan tak perlu berdesakan seperti orang yang berbelanja ke pasar konvensional menjelang Ramadan,” ujar dia.

Ternyata maraknya marketplace tidak berdampak signifikan terhadappasarkonvensional. Pasalnya pedagang online ternyata banyak yang membeli barang kepada pedagang konvensional untuk dijual lagi (re-seller) di internet atau media sosial. Di pusat grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta, misalnya.

Peningkatan penjualan bukan hanya terjadi selama Ramadan, tetapi sudah dirasakan semenjak tiga bulan sebelum Ramadan. Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tanah Abang, Yulis Rasyid, mengatakan, peningkatan penjualan mode telah dirasakan pedagang Pasar Tanah abang semenjak tiga bulan lalu. Ini karena sebagian besar pembeli membeli barang untuk dijual kembali. “Mereka menyetok barang untuk persiapan Ramadan dan setelahnya,” kata Yulis.

Dia menjelaskan, sejak tiga bulan lalu, pedagang fashion di Pasar Tanah Abang bisa mengantongi penjualan di kisaran Rp20 juta-30 juta per hari. Padahal dalam kondisi normal hanya di kisaran Rp5 juta-6 juta per hari. Sebagian besar melakukan pembelian secara grosir dan dikirim ke berbagai propinsi di Tanah Air, khususnya Pulau Sumatera. Puncak penjualan sebelum Hari Raya Idul Fitri terjadi pada minggu kedua atau ketiga Ramadan. Diperkirakan pada saat ini , rata-rata penjualan setiap pedagang berada di kisaran Rp75 juta-100 juta per hari.

Pembelinya terdiri dari ritel dan grosir, tidak mengherankan bila pada saat ini Pasar Tanah Abang disesaki konsumen. Setelah minggu ketiga hingga malam takbiran, Pasar Abang hanya disesaki pembeli ritel. Yulis mengaku, sebagian dari penjual di Pasar Tanah Abang juga memiliki saluran penjualan melalui online. Dimaksudkanuntukmempermudah konsumen grosir maupun ritel mengetahui koleksi terbarunya. Hasilnya sudah ada yang mulai dirasakan pedagang. Tapi ada juga yang belum terlalu dirasakan.

“Ada yang menilai penjualan online baru pelengkap penjualan offline,“ terangnya. Senada, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta juga mengatakan bahwa pasar offline relatif tidak terpengaruh lonjakan aktivitas jualbeli di pasar online. Itu lantaran sebagian pemain online merupakan reseller yang membeli barang dari pasar offline. Sisanya memang ada yang langsung mengambil barang dalam jumlah besar ke pabrik atau impor. Menurut Tutum, penjualan di pasar online pada Ramadan dan menjelang Lebaran tahun ini justru terjadi peningkatan yang cukup signifikan di kisaran 50-100%, tergantung pada jenis produknya.

Khusus untuk produk fashion, peningkatan penjualan di ritel modern di kisaran 200-300%. Puncaknya diperkirakan terjadi pada H-1. “Seperti tahuntahun sebelumnya, hari-hari terakhir Ramadan adalah puncak masyarakat berbelanja Lebaran. Mereka membeli berbagai komoditas dan barang di ritel modern,” terang Tutum. (ded)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini