JAKARTA - Di tengah lesunya penjualan pada pusat perbelanjaan saat ini, pemerintah diimbau untuk turut mengawasi biaya sewa toko agar tak menambah beban pedagang yang menyewa. Bagi mati suri, toko yang masih berdiri di kawasan Glodok kini mati suri.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, disayangkan apabila biaya sewa yang harus ditanggung oleh penyewa toko terlalu tinggi sementara penjualan sedang lesu.
"Pemerintah harus memantau harga sewa kios di beberapa pusat perbelanjaan. Jangan sampai penjualan sedang lesu dan omzet turun, harga sewa malah dinaikkan," katanya ketika dihubungi Okezone di Jakarta, Selasa (18/7/2017).
Tak hanya memantau harga sewa toko di pusat-pusat perbelanjaan, menurut Bhima, pemerintah juga harus memperbaiki daya beli masyarakat. Sebab lemahnya daya beli membuat kecenderungan masyarakat menahan diri untuk melakukan aksi beli.
"Memperbaiki daya beli masyarakat dengan mengendalikan harga kebutuhan pokok dan menunda kenaikan harga BBM bersubsidi, listrik, dan LPG 3 kg. Setidaknya sampai akhir tahun harga stabil," paparnya lebih jauh.
Pelaku usaha khususnya yang mikro, kata Bhima, juga perlu diperhatikan oleh pemerintah dengan cara memberikan stimulus guna mendorong kegiatan usaha mereka tetap berjalan meski penjualan sedang turun.
"Kalau memang ada ruang, pemerintah bisa turunkan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR). Penurunan sebesar 0,5%-1% sangat membantu pengusaha kecil dan pedagang eceran," tukasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.