nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RAHASIA SUKSES: Goh Cheng Liang, Miliarder yang Tak Pernah "Makan Kursi" Sekolah

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Senin 31 Juli 2017 18:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 07 30 320 1746614 rahasia-sukses-goh-cheng-liang-miliarder-yang-tak-pernah-makan-kursi-sekolah-4GY6jMRlBN.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Goh Cheng Liang adalah salah satu konglomerat Singapura yang paling terkenal dan paling tidak terkenal. Goh Cheng Liang merupakan orang terkaya ketiga di Singapura. Kekayaannya mencapai USD7,8 miliar.

Dia terkenal karena kekayaan, namun sekaligus tidak terkenal, karena tidak pernah berbicara dengan media. Dia bahkan hanya satu kali melakukan wawancara pada 1997.

Namun, di Singapura di sangat terkenal karena beberapa landmark ternama, seperti rumah sakit Mt Elizabeth dan pusat perbelanjaan Liang Court di Clarke Quay, yang telah dibangun oleh pengusaha yang sangat tertutup ini.

Sebagai seorang pengusaha kawakan, Goh tidak pernah pergi ke sekolah. Dia lahir dari keluarga miskin di rumah petak satu kamar pada 1928. Goh merupakan salah satu dari empat bersaudara yang tinggal di rumah itu.

Sebagai anak laki-laki, dia mencoba membantu keluarganya dengan menjual jaring ikan dan bekerja di toko peralatan, mempelajari keterampilan bisnis yang kemudian akan menentukan nasibnya. Pada 1949, ketika Inggris melelang surplus cat bekas sisa Perang Dunia II, dia membeli semua cat tersebut. Namun, karena tidak memiliki duit, dia membeli cat-cat tersebut dengan sebuah nyanyian.

Dia pun melakukan eksperimen dengan cat tersebut, bermodal buku bahan kimia berbahasa China. Dia mencampur pelarut, pigmen dan bahan kimia untuk membuat sendiri merek cat yang disebut Pigeon. Tahun berikutnya, perang pecah di Korea, dan larangan impor membuat Goh mendapatkan durian runtuh.

Revolusi industri membuat banyak bisnis booming, termasuk bisnis cat. Dia pun mengajukan diri untuk berpartner dengan Nippon Paint of Japan. Goh mengambil risiko dengan porsi saham 60-40 dalam sebuah anak usaha patungan Nipsea Management Group. Berkat bisnis cat tersebut, dia menjadi konglomerat cat yang memegang merek Nippon di Asia.

Saat ini, merek Nippon Paint dijual di 15 negara di luar Jepang, dengan sekira 15.000 karyawan dan pabrik di 30 lokasi. Omzet tahunannya, diperkirakan mencapai USD2,6 miliar. Son Goh Hup Jin pun mengawasi perusahaan yang dijalankan ini lewat manajer profesional.

Karir Goh telah menjadi contoh perjalanan bagi seorang pengusaha yang ingin sukses. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciptakan, membangun dan menjual untuk membuka nilai mereka.

Selama bertahun-tahun, dia menginvestasikan sebagian dari keuntungannya di bisnis cat menjadi properti dengan membangun pusat perbelanjaan, hotel, tempat tinggal, serta bisnis distribusi ritel dengan mitra Jepang, bisnis manufaktur, kemasan khusus, logistik, makanan, bahkan mengoperasikan manufaktur di Amerika dan perusahaan pertambangan di China.

Meski demikian, dia tidak ingin anaknya tidak mengenyam pendidikan seperti dia. Oleh karena itu, dia pun mengirim anak laki-lakinya, Hup Jin, untuk bersekolah di Amerika Serikat (AS). Dia juga mulai membawa beberapa perusahaannya ke pasar saham, dan membentuk kerajaan swasta dengan rekan dan karyawan lamanya di bawah Yenom Industries.

Yenom Industries, memiliki properti seperti perumahan, lapangan golf, marina, hotel dan pembangunan perumahan di Teluk Habour dan tempat lain.

Selama bertahun-tahun, Goh telah menjual sahamnya di perusahaan publik. Dia menjual 59% sahamnya di Liang Court seharga USD175 juta kepada Pidemco Land pada 1999. Sementara pembuat layanan elektronik, Omni Industries, dijual ke CelesticaCLS, sebuah perusahaan dari Kanada, senilai USD1 miliar pada 2001. Dia juga melepas Mt Elizabeth, bersama dengan Crown Holdings di AS, dan membawa perusahaan itu terdaftar di Superior Multi-Packaging.

Goh kini telah menjadi taipan yang memonopoli bisnis cat. Pada awal tahun ini, dia membuat tawaran USD751 juta untuk mengambil 30% saham di Nippon, yang terdaftar di Tokyo. Namun, langkah tersebut akhirnya di batalkan dengan alasan ingin lebih mengembangkan bisnisnya Asia.

Meskipun jarang membuat berita, namun Goh disorot karena banyak memberikan dana untuk beasiswa, riset kanker dan pendidikan melalui Yayasan Goh. Jadi, publikasi yang dia dapatkan bukanlah untuk bisnisnya, melainkan kegiatan filantropinya.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini