nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada Kasus Pencurian Data, Hati-hati Saat Belanja Online

Rizkie Fauzian, Jurnalis · Sabtu 26 Agustus 2017 09:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 26 278 1763536 waspada-kasus-pencurian-data-hati-hati-saat-belanja-online-YVx4ZB65Ma.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

LOMBOK - Kasus pencurian data nasabah kini marak terjadi di Indonesia. Selain meresahkan, hal tersebut tentunya merugikan banyak pihak salah satunya nasabah itu sendiri. Sebelumnya, Bareskrim Polri berhasil membongkar pelaku penjual data. Pelaku menjual data menggunakan jaringan internet.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk, Rohan Hafas mengatakan bahwa perbankan kerap dituduh menyebarkan data-data nasabah tersebut, padahal masyarakat sendiri yang tanpa sadar telah menyebarluaskannya.

"Saya kasih tahu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, tapi masih sering dilakukan. Pertama menggesekkan kartu kredit atau debit ke mesin EDC, kemudian kasir menggesekkan lagi ke keybord komputer atau mesin cash register yang ada di kasir. Padahal sudah cukup dengan menggesekkan ke ECD. Jangan mau, karena itu merekam data nasabah di komputer atau hardisk PC mereka," Jelasnya di Lombok, Sabtu (26/8/2017).

Selanjutnya, masyarakat saat ini gemar berbelanja dengan online, dan tanpa sadar sudah memberikan datanya kepada orang lain. Misalnya, setiap melakukan pembelian, maka penjual akan meminta tiga digit terakhir nomor kartu.

"Itu siapa yang ngatur keamanannya di toko online? Belum ada kan. Kalau  bank very regulated, ada banknya, diawasi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Bisa ketahuan dari situ," ungkapnya.

Selain itu, menurut Rohan dengan berbelanja online menggunakan  handphone dan wifi publik, hal tersebut sangat mudah untuk terkena hack. Dirinya menjelaskan jika selama ini sudah ada kerjasama khusus antara pihak perbankan dan merchant dalam menjaga kerahasiaan nasabah.

"Sebetulnya sudah ada kerjasama khusus, tapi biasanya manager yang bertugas di lapangan dan pihak Visa-nya sendiri, karena itu kan link sama Visa, semua EDC kan harus ada Hub-nya, nah itu Visa, seharusnya mereka bisa me-maintance kasirnya," kata Rohan.

Rohan menambahkan, saat ini sistem yang digunakan Indonesia belum menerapkan sistem integrasi antara mesin cash register atau keyboard komputer dengan perbankan. Berbeda dengan di negara maju yang sudah menerapkan hal tersebut.

"Kasir itu seharusnya kan input data manual bukan digesek ke PC, tapi mereka malas ketiknya. Kalau di luar negeri kan mesin kasirnya langsung ke bank. Kalau di kita masih sendiri-sendiri," tambahnya.

(tro)

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini