Image

Cukai Rokok Diprediksi Naik hingga 9% Tahun Depan, Sejauhmana Imbasnya ke Industri Rokok?

Trio Hamdani, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 06:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 12 320 1794366 cukai-rokok-diprediksi-naik-hingga-9-tahun-depan-sejauhmana-imbasnya-ke-industri-rokok-xF6Nojs6hL.jpg Ilustrasi: reuters

JAKARTA - Kenaikan cukai rokok pada 2018 mendatang diprediksi tidak akan setinggi tahun ini. Menurut PT Bahana Sekuritas hal itu menguntungkan industri rokok termasuk perusahaan rokok yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam RAPBN 2018, Bahana menyatakan bahwa kelihatannya rencana kenaikan cukai tahun depan tidak akan setinggi tahun ini. Berdasarkan perhitungannya, tahun ini rata-rata kenaikan cukai rokok sekira 10%-11%, maka pada tahun depan kenaikan cukai diprediksi pada kisaran 7%-9%.

‘'Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata kenaikan cukai rokok lebih tinggi dari kenaikan inflasi, bila tahun depan kenaikan cukai rokok tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, akan memberi dampak positif bagi industri rokok, '' ungkap Analis Bahana Michael Setjoadi.

Di sisi lain, kata dia, pemerintah kian ketat mengatur iklan rokok yang tayang di televisi maupun di area publik. "Ditambah lagi larangan merokok di tempat umum semakin digencarkan,'' jelasnya lebih lanjut.

Melihat faktor tersebut, pihaknya memperkirakan bahwa volume penjualan rokok tahun depan masih akan mengalami kontraksi sekitar 1%-1,5%, dibandingkan penjualan tahun ini yang diperkirakan turun sebesar 1,5%. Kemudian volume produksi rokok diperkirakan akan mencapai 318,8 miliar batang pada tahun depan, naik dibandingkan perkiraan volume produksi 2017 sebanyak 315,6 miliar batang.

Baca juga: Catat! Barang Kena Cukai Indonesia Paling Sedikit di Antara Negara ASEAN

Sedikitnya ada empat pemain besar di industri tembakau Indonesia. Dari sekian faktor yang dijabarkan di atas, pihaknya merekomendasikan saham PT Gudang Garam Tbk dengan pertimbangan pada 2018 perkiraannya daya beli masyarakat membaik terutama masyarakat menengah ke bawah yang pada umumnya adalah target pasar perusahaan berkode saham GGRM itu.

Kata dia, pihaknya memperkirakan daya beli akan membaik tahun depan tertolong oleh perhelatan pilkada serta kampanye pemilihan presiden yang diperkirakan akan dimulai pada paruh kedua tahun depan. Pihaknya memperkirakan Pilkada dapat meningkatkan konsumsi untuk wilayah di luar kota.

Kemudian, kenaikan cukai rokok yang diprediksi lebih rendah tahun depan pada akan menguntungkan bagi Gudang Garam sehingga laba bersih diperkirakan akan naik sebesar 6% menjadi Rp7,25 triliun dari perkiraan laba bersih sepanjang 2017 sekitar Rp 6,85 triliun.

Baca juga: Produksi Rokok Diperkirakan Turun 9,79 Miliar Batang di 2018, Bagaimana dengan Target Cukai?

Bahana, lanjut dia, memperkirakan GGRM akan diperdagangkan sebesar 17,6 x PE pada 2018, sementara kompetitornya, Sampoerna diperkirakan akan diperdagangkan sebesar 34,9 x PE pada tahun depan. Target harga GGRM oleh Bahana sebesar Rp 79.000 per lembar.

Sementara itu, PT HM Sampoerna masih akan meluncurkan sejumlah produk baru dengan target pas yang berbeda. Perusahaan berkode saham HMSP ini dinilai cukup efisien dalam berproduksi.

Diperkirakan laba bersih HMSP hanya naik sekitar 1% menjadi Rp12,87 triliun pada 2018, dari laba bersih tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 12,76 triliun. Bahana merekomendasikan beli dengan target harga Rp 4.200 per lembar

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini