Jumlah populasi orang kaya di China diprediksi mencapai 2,8 juta orang pada 2022, seiring pertumbuhan ekonomi di Negeri Panda yang berkembang pesat. Menurut laporan Credit Suisse, kekayaan 1% populasi dunia itu akan meningkatkan nilai investasi pada saham dan properti.
“Nilai aset finansial, khususnya perusahaan sekuritasakan menjadi faktor penting karena orang kaya tersebut memegang saham yang tidak proporsional dari bentuk finansial mereka,” ungkap laporan tersebut. Namun demikian, kesenjangan kekayaan semakin lebar setelah krisis ekonomi.
Kondisi itu menyebabkan para pakar kebijakan dan anggota parlemen mempertanyakan dampak bertambahnya jumlah orang kaya dan kekayaan mereka terhadap perekonomian AS dan negara maju lainnya.
Lembaga pemeringat kredit Standard & Poor memperingatkan, kesenjangan kekayaan akan menjadi gangguan dan tantangan dalam pertumbuhan ekonomi jangka panjang, apalagi muncul permasalahan sektor tenaga kerja tak berpendidikan yang akan menjadi beban. Temuan kajian Credit Suisse menambah perdebatan mengenai reformasi pajak.
Apalagi, kubu Partai Republik di AS meng ajukan pemotongan pajak. Anggota Dewan Perwakilan AS dan Senat juga lebih mendorong reformasi pajak yang menguntungkan orang kaya dan kelas menengah. Para kritikus mengungkapkan bahwa semua itu akan menambah jurang ketidakadilan dan kesenjangan kekayaan.