JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali merevisi proyeksi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun mencapai 8%. Sebelumnya, BI sempat memprediksi pertumbuhan kredit bisa mencapai 10%-12%, target tersebut kemudian direvisi menjadi di kisaran 8%-10% hingga akhirnya di koreksi menjadi 8%.
"Kami lihat faktor permintaan dan penawaran berdampak ke pertumbuhan kredit yang masih lemah. BI berharap agar intermidiasi kredit tetap baik" ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di Kantor BI, Jakarta, Kamis (16/11/2017).
Baca Juga: Soal Revisi Pertumbuhan Kredit, Agus Marto: Belum Resmi Diubah, Tergantung Oktober
BI mencatat pertumbuhan kredit pada September 2017 mencapai 7,9% (yoy/year on year), ini lebih rendah dari capaian bulan Agustus yang mencapai 8,3% (yoy). Sedangkan pertumbuhan kredit year to date (ytd) sampai 30 September di kisaran 3,8%.
"Dengan mempertimbangkan rendahnya pertumbuhan kredit tersebut BI memutuskan dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) countercyclical capital buffer (CCB) tetap 0%. Ini kami lihat sebagai bentuk bagaimana supaya intermediasi tetap lebih baik," jelasnya.
Baca Juga: 9 Bulan, Penyaluran Kredit Perbankan Rp4.569 Triliun
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menilai, penurunan pertumbuhan kredit disebabkan kondisi pemulihan perekonomian. "Karena korporasi waktu ekspansi di 2013 lalu ekonomi kena taper tantrum. Maka sekarang ada pemulihan memang belum terasa memerlukan tambahan kapasitas. Karena tambahan kapasitas sudah terjadi di 2013. Kalau pemulihan terus berlanjut, maka nantinya akan diikuti pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja," ujar Mirza.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)