Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Punya Pilihan, Xiaomi Harus Masuk Pasar Offline

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 21 November 2017 |11:11 WIB
Tak Punya Pilihan, Xiaomi Harus Masuk Pasar <i>Offline</i>
Ilustrasi Xiaomi. (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Ketika pasar Xiaomi di Tiongkok sudah tersaturasi, tidak ada pilihan bagi Lei Jun untuk memperbesar posisi di negara-negara berkembang di Asia lainnya. Di antaranya India, Indonesia, Rusia, Ukraina, dan Vietnam, sebelum agresif di Amerika.

India adalah pasar terbesar Xiaomi setelah Tiongkok dengan market share mencapai 29%. Lei Jun sudah berulang kali datang ke sana untuk menghadiri peluncuran produk. Bahkan, pendapatan Xiaomi di India diperkirakan mencapai USD1 miliar pada 2016.

Sementara pendapatan total Xiaomi hingga 2017 ditargetkan tembus USD15 miliar. Lei Jun mengakui, ada sejumlah kendala bagi Xiaomi saat berekspansi ke market baru. Pertama, membangun pabrik dan supplier. Kedua, ketergantungan Xiaomi terhadap pasar online. “Pasar online masih kecil sehingga bisnis model kami sangat bergantung pada berapa banyak orang yang mengadopsi internet,” katanya.

Mau tidak mau, Xiaomi memang harus masuk ke pasar offline. “Tantangannya adalah bagaimana mencapai efektivitas dan efisiensi online di ranah offline . Di India, kami sudah mencapai 50 market share di pasar online ,” kata Lei Jun.

Untuk ritel offline , Xiaomi memang memiliki toko bernama Mi Home. Toko tersebut menampilkan hampir semua produk mereka yang terdiri atas ponsel, aksesori, produk rumah tangga, bahkan fashion. Penjualan dari pasar online dan offline diharapkan dapat seimbang dalam beberapa tahun ke depan di Tiongkok, serta pasar di luar China seperti India.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement