Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bentuk Holding BUMN Tambang, Inalum Ingin Stop Impor Alumina dari Australia

Giri Hartomo , Jurnalis-Selasa, 05 Desember 2017 |21:52 WIB
Bentuk Holding BUMN Tambang, Inalum Ingin Stop Impor Alumina dari Australia
Aluminium PT Inalum (Foto: Giri Hartomo/Okezone)
A
A
A

KUALA TANJUNG - Indonesia resmi memiliki induk usaha (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pertambangan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditunjuk menjadi induk usahanya dengan PT Antam (Tbk), PT Bukit Asam (Tbk) dan PT Timah sebagai anggotanya.

Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Inalum Carry EF Mumbunan mengatakan dengan adanya holding tambang BUMN, Indonesia tidak lagi melakukan impor alumina lagu untuk memenuhi kebutuhan bauksit dalam pembuatan alminium. Karena selama ini, untuk membuat aluminium, pihaknya selalu mendatangkan alumina (bahan membuat almunium) dari Australia.

"Nanti harapannya, kami tidak membeli alumina dari Australia lagi tapi dalam negeri. Mungkin ketergantunvan bisa kita tutupi. Di sisi lain rantai dalam negeri itu jadi semakin tersambung," ujarnya saat ditemui di Pabrik Peleburan Almunium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, Jakarta, Selasa (5/11/2017).

Oleh karena itu lanjut Carry, pihak ya akan bekerja sama dengan PT Antam selaku anggota holding tambang BUMN untuk mengelola bauksit yang ada di Kalimantan Barat. Nantinya, pihaknya bersama dengan PT Antam akan mengelola bauksit dengan menggunakan teknologi dari China.

"Produk alumina itu dibuat dari bauksit padahal bauksit itu kita punya di Kalimantan Barat, cuma (memang) belum diolah. Untuk memutuskan rantai ketergantungan (impor Australia) bagaimana kalau bauksit yang ada di Kalimantan Barat itu kita olah sendiri dan bekerjasama dengan Antam dengan menggunakan teknologi Cina," jelasnya.

Sementara itu ditempat berbeda, General Manager SDM PT Inalum Moh Rozak Hudioro mengatakan dengan adanya holding tambang BUMN, pihaknya akan mulai fokus untuk menggarap bahan baku hilir. Sehingga dengan adanya holding ini bisa menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan melalu hilirisasi produk tambang.

"Kita ingin ada added value, bagaimana caranya hilirisasi juga harus dilakukan, kami sekarang sudah mulai merintis," ujarnya.

Dalam rangka tersebut, pihaknya telah menyediakan beberapa pabrik pengelolaan hilir yang baru. Seperti pabrik Alloy (produk turunan aluminium).

"Kita sudah sediakan , ada pabrik bullet ada pabrik Alloy. Yang nantinya harganya akan lebih tinggi dari aluminium batangan," jelasnya.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement