nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RAHASIA SUKSES: The Ning King, "Pengusaha Senior" yang Hemat Bicara

Lusia Widhi Pratiwi, Jurnalis · Minggu 10 Desember 2017 18:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 10 320 1828160 rahasia-sukses-the-ning-king-pengusaha-senior-yang-hemat-bicara-sx9lPj40M6.jpg The Ning King. (Foto: Forbes)

JAKARTA - Usia nampaknya tidak menjadi halangan bagi seorang pengusaha untuk terus berkarya. Meskipun banyak pengusaha muda bermunculan, bukan berarti pengusaha-pengusaha senior kalah kiprah.

Sebut saja The Ning King, pengusaha yang umurnya hampir mencapai kepala 9 ini telah mendirikan lebih dari 40 pabrik dan usaha patungan, dan mempekerjakan lebih dari 35.000 orang. Lewat Argo Manunggal, dia pun tidak hanya menjadi raja properti di Indonesia tetapi juga bisnis lainnya.

Lahir di Bandung, Jawa Barat, Indonesia pada 1931, dia melanjutkan bisnis tekstil milik keluarganya. Dia pun memutuskan memindahkan bisnis tersebut ke Jakarta pada 1949. Belasan tahun kemudian, dia pun mendirikan pabrik tekstil pertamanya pada 1966 dan mendirikan Argo Pantes pada tahun 1977.

Setelah itu, dia mendirikan beberapa perusahaan, termasuk Manufaktur Man Man Manunggal dan Dharma Manunggal untuk membentuk Argo Manunggal Group. Argo Manunggal Group saat ini beroperasi sebagai konglomerasi yang berbasis di Jakarta, bergerak di sektor tekstil, baja, properti, pertambangan, energi, dan pertanian.

Dia pun kembali mengembangkan lini bisnisnya dengan memasuki sektor properti. Dia membeli saham perusahaan real estat, termasuk Alam Sutera Realty dan Kawasan Industri Fajar Bekasi, melalui Argo Manunggal Group.

Alam Sutera mulanya adalah perusahaan keluarga Harjanto Tirtohadiguno. Berdiri 1973 dengan nama PT Alfa Goldland Realty sekaligus menjadi nama proyek pertama di bisnis properti, perumahan Taman Alfa Indah, di Jakarta Barat. Sukses di Taman Alfa Indah, lalu mendapat hak pengembangan lahan di Serpong Tangerang, Banten saat kawasan itu masih berupa hutan belantara, pohon karet dan lapangan ilalang.

Pada 1994 Alam Sutra berhasil menjual sekira 1.100 unit hunian dalam waktu dua minggu. Tidak berhenti di situ, King lalu membawa Alam Sutra ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 18 Desember 2007. Alam Sutra pun resmi menjadi perusahaan modern dan terbuka dengan nama PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

Setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sekaligus mensejajarkan diri bersama sederet pengembang papan atas di Indonesia yang memfokuskan kegiatan usahanya dalam pembangunan dan pengelolaan perumahan, kawasan komersial, kawasan industri, dan pengelolaan pusat perbelanjaan, pusat rekreasi dan perhotelan serta pengembangan kawasan terpadu.

Selain Alam Sutra, dia juga mendirikan perusahaan PT Bekasi Fajar Industrial Estate, dan menjadi pemegang mayoritas 64% saham. Perusahaan dengan kode BEST di pasar modal didirikan pada tanggal 24 Agustus 1989 bersama dengan Marubeni Corporation (Jepang).

Perseroan membentuk perusahaan patungan dengan nama PT Megalopolis Manunggal Industrial Development (MMID), mengembangkan dan merintis kawasan industri di daerah Cikarang Barat, Bekasi, yang dikenal dengan Kota Industri MM2100.

BEST fokus menyediakan kavling siap bangun untuk kebutuhan industri yang dilengkapi berbagai infrastruktur dan fasilitas lainnya. Membangun dan mengelola sarana dan prasarana meliputi pelayanan kepada penghuni kawasan industri.

Meskipun sudah menjadi konglomerat, King nampaknya tetap low profile. Melansir Wealth-X, dalam sebuah wawancara dia bahkan minta maaf, karena tidak banyak bicara. Menurutnya, dia cenderung hemat bicara dan hanya melakukan pekerjaan yang harus dia lakukan.

Dalam usianya yang ke-86 tahun ini, King masih menjabat sebagai Chairman dari Argo Manunggal Group, sebuah perusahaan konglomerasi yang berbasis di Jakarta. Selain itu, dia pun rajin memberikan edukasi, dan pelayanan sosial dan kemanusiaan. Tercatat, dia telah menyumbang lebih dari USD11 juta ke berbagai lembaga dan universitas.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini