
“Memang cukup tinggi karena faktor melebarnya defisit transaksi berjalan,” kata Eko. Adapun harga minyak dunia pada 2019 diproyeksikan sebesar USD75 per barel, sedikit lebih tinggi dari asumsi makro APBN 2019 sebesar USD70 per barel. Inflasi 2019 sebesar 3,5% seiring laju daya beli yang juga rendah. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada di angka 5,3%. Angka kemiskinan pada 2019 diprediksi mencapai 10%. Eko menuturkan, sektor industri masih menjadi penyumbang utama dalam perekonomian Indonesia walaupun peranannya semakin menurun.
“Beberapa sektor yang kita harapkan mendorong, yaitu industri makanan dan minuman yang mempunyai kontribusi besar. Kami proyeksikan tumbuh sekitar 8,5%,” tuturnya.
Direktur Indef Enny Sri Hartati mengatakan, perang dagang antara AS dan China akan berdampak pada memburuknya kinerja ekspor kedua negara itu. Namun di sisi lain, akan menguntungkan bagi negara yang mampu memanfaatkan situasi ini. “Ekspor Amerika Serikat berkurang -0,63% dan China sebesar -0,90%. Bagi Indonesia, meskipun ada kenaikan ekspor sebesar 0,14%, tapi impor meningkat 0,42%,” tuturnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Tingkatkan Kewaspadaan Gejolak Ekonomi Global