SOLO – Momentum politik seiring dengan pemilihan calon presiden dan anggota legislatif, diyakini tidak terlalu banyak berdampak terhadap industri pasar modal. Hal ini pun dibenarkan langsung Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta, M Wira Adibrata, tahun politik tidak banyak berdampak terhadap pasar modal dan bahkan sebaliknya memberikan dampak positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG). ”Sejarahnya dari tahun ke tahun pascapilpres, indeks selalu naik," ujarnya dilansir dari Harian Neraca, Senin (14/1/2019).
Disampaikannya, melihat dari tren tahun-tahun sebelumnya, pascapilpres 1999 terjadi kenaikan IHSG hingga 70%, pasca pilpres 2004 naik 44, pasca pilpres 2009 naik 86%, dan pasca pilpres 2014 naik 22%. Kata Wira, alasan mendasar kenaikan tersebut bukan hanya dipengaruhi faktor politik tetapi juga fundamental nasional.”Ketika situasi dalam negeri kondusif, perkembangan dunia usaha juga akan lebih kondusif. Jadi lebih ke kondisi ekonomi," jelasnya.
Baca Juga: BEI Beri Sanksi Denda Rp150 Juta ke 6 Emiten
Dia mengatakan, kericuhan yang terjadi sebagai dampak dari perbedaan pilihan dalam berpolitik juga sejauh ini tidak berdampak signifikan terhadap sektor ekonomi. Menurutnya, ketidakcocokan hanya terjadi sebatas komunikasi melalui media, tidak sampai ke sektor riil. Sementara itu, dikatakannya, saat ini IHSG berada di level 6.298. Dari sisi emiten, saat ini perbankan merupakan sektor yang paling solid dan diminati oleh investor.
Untuk sektor perbankan, lanjut Wira, pertumbuhan labanya masih di atas 10 %, seperti BCA saat ini harga per lembar sahamnya mencapai Rp24.000. Selain itu, sektor consumer seperti Indofood CBP yang saat ini harga per lembar sahamnya Rp10.000 dan Unilever Rp46.000/lembar saham juga masih menjadi primadona bagi investor.”Pertumbuhan harga saham ini dipengaruhi oleh laporan keuangan perusahaan, jika bagus maka peminat juga tinggi," katanya.