JAKARTA - PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) melaporkan telah menggunakan seluruh dana yang didapat dari Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Sekretaris Duta Intidaya Sukarnen Suwanto mengatakan, perseroan telah mengantongi Rp65 miliar lewat rights issue yang dilakukan pada 27—29 Desember 2017 dan 8 Januari 2018. Setelah dikurangi dengan biaya PMHMETD, emiten berkode saham DAYA tersebut mendapatkan hasil bersih senilai Rp61,80 miliar. Adapun sebanyak 40,16% dari perolehan rights issue tersebut telah digunakan pengelola gerai Watsons Indonesia itu untuk belanja modal kebutuhan gerai baru, peremajaan gerai, dan investasi teknologi informasi.
Baca Juga: Saham Watson Berhasil Bukukan Kenaikan 23%
Sisanya sebesar 59,85% digunakan untuk belanja kebutuhan modal kerja dalam hubungannya dengan gerai baru dan bisnis e-commerce. Sebagai informasi, di kuartal tiga 2018 kemarin, emiten peritel pemilik gerai Watsons ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan 68,21% kendati masih mengalami rugi sebesar Rp39,74 juta. Perusahaan masih fokus melakukan ekspansi bisnis dan di antaranya perluasan gudang di Bitung Jaya karena pertumbuhan penjualan melalui online. Saat ini perusahaan menggandeng Lazada, Shopee, Halodoc, JD.id, Blibli.com dan lainnya untuk memperkuat penjualan dari kanal digital tersebut.
Oleh karena itu perusahaan ekspansi kapasitas gudang dari 2.600 meter persegi menjadi 8.000 meter persegi yang nantinya juga bisa menyuplai kebutuhan 300 gerai lainnya. Namun dirinya belum memberikan informasi mengenai progres perluasan gudang tersebut. Sukarnen menambahkan tantangan retail ke depan akan evolving. Hal ini didasarkan karena Internet Of Things memungkinkan customer memiliki banyak pilihan untuk mengakses website perusahaan selama 24 jam sehari dan 7 hari per-minggu atau 24/7 yang sebelumnya ini tidak tersedia.

Menurutnya, fungsi retailer mesti berubah mengikuti hal ini. Sebagai perbandingan, Sukarnen menjelaskan bahwa misalnya di offline store, proses transaksinya cuma berjalan satu titik saja. “Di mana product, display, delivery, pembayaran, complaint semua cuma di satu titik,” lanjutnya dilansir dari Harian Neraca, Selasa (15/1/2019).
Sementara untuk online store, dia bilang proses transaksinya bisa terpecah ke beberapa titik. “Product ada di gudang, dan display ada di website, Belanja customer di website atau platform. Delivery melalui kurir. Sedangkan untuk komplain dan pengembalian melalui Customer Service,” paparnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.