nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perry Warjiyo: Suku Bunga Acuan BI Hampir Mencapai Puncak

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 30 Januari 2019 15:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 30 20 2011413 perry-warjiyo-suku-bunga-acuan-bi-hampir-mencapai-puncak-S09hgFQ3mN.jpeg Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 175 basis points (bps) di sepanjang 2018. Sejak Mei hingga Desember 2018, bunga acuan naik dari level 4,5% menjadi 6%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, kebijakan pengetatan moneter tersebut merupakan respons untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Hal ini untuk menjaga daya tarik investasi di Tanah Air sehingga arus modal asing dapat tetap masuk.

"Arah kebijakan moneter tahun kemarin pre-emptive dan ahead-the curve dan akan terus berlanjut. Artinya ketika menaikan suku bunga acuan sudah memperhitungkan kenaikan Fed Fund Rate di 2018 dan ini di tahun 2019," katanya dalam acara Mandiri Investment Forum (MIF) 2019 di Hotel Fairmont, Rabu (30/1/2019).

Baca Juga: RI 'Kebanjiran' Modal Asing Rp14,7 Triliun

Pada tahun 2018, The Fed memang menaikkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali. Kebijakan pengetatan ini akan berlanjut di 2019 yang diprediksi hanya akan sebanyak 2 kali.

Perry menyatakan, dengan demikian kenaikan suku bunga acuan BI sudah hampir mencapai puncaknya. Maka, ruang pengetatan moneter akan semakin rendah.

"Jadi suku bunga acuan kami hampir ada di puncak. Karena tahun kemarin kami sudah ambil risiko kenaikan suku bunga acuan," imbuhnya.

perry

Dia mengakui, kebijakan kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun lalu dikeluhkan perbankan sebab likuiditas kian ketat. Meski demikian, Perry menilai likuiditas perbankan tetap dalam kondisi yang sehat, sebab kebijakan Bank Sentral tersebut juga dibarengi dengan kebijakan lainnya.

Di antaranya dengan kebijakan perubahan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) baik bagi bank umum konvensional, bank umum syariah, maupun Unit Usaha Syariah (UUS) di Bank Sentral.

"Pokoknya likuiditas perbankan cukup dan tahun lalu kita sudah melonggarkan dengan kebijakan GWM dan sebagainya. Kita juga terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini