JAKARTA - Di tengah pembangunan infrastruktur yang masif, pemerintah kini fokus pada pengembangan investasi Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi saat ini membawa gelombang revolusi industri 4.0.
Berbagai industri mulai berbenah dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Hal ini termasuk industri baja di Tanah Air. Kondisi tersebut memberikan peluang dan tantangan bagi industri baja.
Menurut data dari Himpunan Ahli Pengecoran Indonesia (Hapli), saat ini Indonesia memiliki kapasitas produksi 360.000 ton oleh 164 perusahaan pengecoran. Sementara kebutuhan di 2018 saja melebihi kapasitas yang ada, yakni 546.000 ton untuk konstruksi dan manufaktur.
Baca Juga: Mendag Revisi Aturan Impor Baja
Untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi, perusahaan-perusahaan Indonesia siap mengadopsi teknologi yang mendukung industri 4.0.