nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Bukalapak Minta Maaf ke Pendukung Jokowi Usai Kritik Dana Riset Indonesia

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Jum'at 15 Februari 2019 07:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 15 320 2018224 bos-bukalapak-minta-maaf-ke-pendukung-jokowi-usai-kritik-dana-riset-indonesia-5LbW0H6LHf.jpg CEO Bukalapak Achmad Zaky (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA - Founder & CEO Bukalapak Achmad Zaky mengkritik dana riset yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, anggaran dana riset Indonesia sangat rendah dibandingkan beberapa negara.

Dalam akun Twitternya, @achmadzaky tidak mungkin Indonesia bisa mengembangkan industry 4.0 jika anggarannya hanya USD2 miliar. Menurut Zaky, sangat jauh dibandingkan Amerika Serikat 511 miliar dolar ASdan China yang 451 miliar dolar AS. Bahkan, anggaran tersebut lebih sedikit dibandingkan Malaysia dan Singapura yang masing-masing mengalokasikan dana 10 miliar dolar AS.

bukalapak

"Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin," cuitnya di Twitter, dikutip Jumat (15/2/2019).

Kalimat tersebut ternyata menuai reaksi keras dari pendukung Presiden Joko Widodo. Tak lama setelah itu Zaky meluruskan dan meminta maaf kepada seluruh pendukung Presiden Joko Widodo. Menurutnya, dia tidak bermaksud untuk menyudutkan Presiden Joko Widodo.

bukalapak

"Buat pendukung pak Jokowi, mohon maaf jika ada yg kurang sesuai kata2 saya jadi misperception. Saya kenal Pak Jokowi orang baik. Bahkan sudah saya anggap seperti Ayah sendiri (sama2 orang solo). Kemarin juga hadir di HUT kami. Tidak ada niat buruk tentunya dari tweet saya," kata dia.

Dia mengklarifikasi bahwa data anggaran riset tersebut disampaikan agar Indonesia lebih meningkatkan investasi di sektor SDM. Dia pun berharap kata-katanya soal "presiden baru" tidak disalah artikan

"Saya apresiasi sekali concern masyarakat twitter soal isu R&D ini. Tanda kalau kita engga kalah pinter. R&D adalah single pembeda negara maju dan miskin. Kalau engga kuat di R&D, kita akan perang harga terus. Negara maju masuk di perang inovasi. Negara miskin masuk di perang harga," kata Zaky.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini