Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SKK Migas Ungkap Alasan Lifting Migas Hanya 1,8 Juta Barel

Giri Hartomo , Jurnalis-Kamis, 04 April 2019 |16:56 WIB
   SKK Migas Ungkap Alasan <i>Lifting</i> Migas Hanya 1,8 Juta Barel
SKK Migas (Foto: Giri/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Hasil lifting minyak dan gas bumi (migas) pada kuartal I-2019 meleset dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar 2,025 juta barel setara minyak (Barel Equivalent per Day/BOEP). Pasalnya, pada kuartal I-2019, lifitng migas hanya sebesar 1,814 juta BOEP atau sekitar 94,6%.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, penurunan lifitng minyak ini tidak terlalu besar. Sebab menurutnya, tren lifting memang sedang mengalami penurunan.

 Baca Juga: Disentil Menteri Jonan, Ini Pembelaan Bos SKK Migas soal Lifting Minyak

Hal tersebut juga tidak terlepas apa yang telah dilakukan pemerintah. Jika tanpa adanya effort dari pemerintah maka mungkin saja penurunan lifting ini bisa lebih besar lagi.

“Semua kan diketahui bahwa kami itu dalam kaitannya dengan minyak dalam tren yang menurun ya to? Kalau kami enggak ada effort maka penurunan itu akan berada di angka 12%,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Dwi menambahkan, berdasarkan analisis dari Dewan Energi Nasional (DEN) bahkan seharusnya lifitng migas itu berada di bawah angka tersebut yakni sekitar 630.000 barel per hari (bph). Akan tetapi, analisa tersebut berhasil dibantahkan dengan capaian di kuartal I-2019 ini.

“Kalau dari analisa DEN 2017, tahun ini tuh produksi cuman 630.000 bph. Tapi kalau lifting kita sekarang bisa sampai 745 maka kita sudah datas perkiraan DEN waktu itu,” jelasnya.

 Baca Juga: Realisasi Lifting Migas Hanya 94,6% di Kuartal I-2019

Meskipun begitu, Mantan Direktur Utama PT Pertamina ini mengaku akan berusaha untuk meningkatkan angka lifting migas. Menurutnya, ada beberapa langkah agar lifting bisa meningkat salah satunya adalah mencari sumur-sumur baru lewat kegiatan eksplorasi.

“Sebelum dapat discovery yang besar upayanya adalah menahan penurunan itu,” ucapnya.

Selain itu upaya lainnya juga bisa lewat penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Saat ini penggunaan teknologi EOR sendiri masih dalam tahap persiapan dan ujicoba.

"EOR baru uji coba. Peningkatan Work Over itu juga dalam persiapan. Semoga ini bisa memberi pengruh. Tapi itulah situasinya,” kata Dwi.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement