nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri Rini Sebut Kerugian BUMN Tak Seburuk Dulu

Selasa 16 April 2019 09:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 16 320 2044043 menteri-rini-sebut-kerugian-bumn-tak-seburuk-dulu-7uFlbFEb1C.jpg Menteri BUMN Rini Soemarno (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pengelolaan perusahaan milik negara dalam empat tahun terakhir sudah sangat jauh lebih baik dibanding lima tahun sebelumnya, tercermin dari berkurangnya BUMN yang mengalami kerugian.

"Akhir tahun 2014 banyak BUMN yang bermasalah di mana 34 BUMN tercatat merugi. Sekarang, hampir semua BUMN keuangannya sehat. Ada yang belum, tapi masih dalam tahap proses penyehatan," katanya dilansir dari Antaranews, Selasa (16/4/2019).

Rini mengatakan, salah satu kesalahan dalam pengelolaan BUMN di masa lalu adalah direksi yang selalu menutup-nutupi berbagai persoalan.

Baca Juga: Menteri Rini: Lucu, Ada yang Larang BUMN Berutang

"Ada masalah yang ditutup-tutupi di 'bawah karpet', diumpetin. Direksi-direksi BUMN di masa lalu cenderung berpikirnya senang-senang, dapat bonus, dan membiarkan persoalan diselesaikan oleh direksi yang berikutnya. Ini yang tidak bisa dibiarkan," tegasnya.

Untuk itu, Rini mengatakan dirinya memiliki tanggung jawab besar dan harus menghentikan persoalan-persoalan itu.

"Saya sadar betul persoalan di masa lalu itu tidak mungkin semua terselesaikan. Namun dalam 5 tahun ini kita sudah membenahi, dan siapa pun yang meneruskan BUMN sudah jauh lebih baik," katanya.

Ia menambahkan, dalam empat tahun terakhir banyak melakukan efisiensi terutama di BUMN-BUMN besar. "PLN sekarang sudah untung. Sebelumnya di masa lalu 34 proyek listrik mangkrak. Alhamdulilah, sekarang hampir semua bisa diselesaikan," ujarnya.

rini

Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kiri) meninjau TBBM Semarang Group milik Pertamina di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/6). Kunjungan kerja tersebut untuk mengetahui kesiapan menjelang masa mudik Lebaran 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama/18

Selain itu, PT Pertamina (Persero) pada 2018 mencetak keuntungan lebih dari 2 miliar dolar AS, selanjutnya Garuda Indonesia sudah untung meskipun masih relatif kecil berkisar 900 ribu dolar AS jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Demikian juga dengan Krakatau Steel, saat ini sedang melakukan restrukturisasi usaha yang diharapkan sudah mendapatkan untung pada tahun 2019.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini