nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wall Street Menguat Ditopang Penjualan Ritel AS

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 18 April 2019 20:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 18 278 2045386 wall-street-menguat-ditopang-penjualan-ritel-as-6g18Cj7tWd.png Foto: Reuters

NEW YORK - Jelang Jumat Agung dan Paskah, Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat ditopang data penjualan ritel yang kuat. Sementara itu, investor juga menunggu laporan penyelidik khusus Robert Mueller.

Penjualan ritel AS meningkat paling tinggi dalam 1-2 tahun terakhir di bulan Maret, indikasi terbaru bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat di kuartal pertama setelah sebelumnya melambat.

Departemen Tenaga Kerja juga menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan aplikasi untuk tunjangan pengangguran turun.

“Penjualan ritel benar-benar kembali menggeliat. Sepertinya konsumen menebus penutupan pemerintah dan ada banyak klaim pengangguran, ”kata kepala ekonom pasar Spartan Capital Securities Peter Cardillo seperti dilansir Reuters, Kamis (18/4/2019).

 Baca Juga: Wall Street Anjlok Terseret Saham Kesehatan

Data ritel yang kuat mampu mengimbangi data manufaktur yang lemah dari Perancis dan Jerman yang menunjukkan aktivitas di dua ekonomi terbesar zona euro terus berkontraksi.

Indeks Dow naik 26 poin atau 0,1%. Indeks S&P 500 naik 4 poin atau 0,14% dan indeks Nasdaq 100 naik 4,75 poin atau 0,06%.

Di sisi lain, laporan penasihat khusus Robert Mueller tentang peran Rusia dalam pemilu AS 2016 akan memberikan pandangan publik pertama pada temuan penyelidikan yang telah membayangi Presiden Donald Trump.

 Baca Juga: Gerak Wall Street dan Ekonomi China Tumbuh 6,4%

Jaksa Agung William Barr akan mengadakan konferensi pers pada pukul 9.30 pagi waktu setempat untuk membahas laporan tersebut.

"Saya pikir pasar akan fokus pada bagaimana laporan Mueller akan menjadi untuk peluang pemilihan ulang Trump," kata Rick Meckler, mitra di Cherry Lane Investments, di New Vernon, New Jersey.

"Tapi seperti segala sesuatu dengan Trump, itu mungkin tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini