Hitung-hitungan Kerugian Garuda Imbas Penurunan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 21 Mei 2019 16:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 21 320 2058506 hitung-hitungan-kerugian-garuda-imbas-penurunan-tarif-batas-atas-tiket-pesawat-sEx1aviqyp.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat antara 12%-16%. Dengan penurunan TBA tersebut, berapa besar kerugian penjualan tiket pesawat Garuda Indonesia?

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, Garuda Indonesia pernah diminta Kementerian Perhubungan untuk menurunkan harga tiket di kisaran 35% terhadap TBA. Dengan menerapkan hal itu, Garuda mengalami kerugian.

"Itu potensi lost USD18 juta per satu bulan. Itu karena yang diminta Kemenhub hingga 35%," ujarnya, di Ruang Rapat Komisi VI, DPR, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

 Baca Juga: Jelang Lebaran, 50.000 Kursi Tambahan Garuda Belum Laku

Kemudian, lanjut Askhara, dengan penurunan TBA saat ini hingga 16%, Garuda menghitung masih belum ada pengurangan.

"April lost tidak ada pengurangan komponen biaya," ujarnya.

Menurut Askhara, kenaikan harga tiket Garuda sudah harus dilakukan karena sejak tarif batas atas (TBA) diterbitkan 2014 hingga sekarang tidak pernah berubah. Adapun komponen pembentuk tarif, yakni bahan bakar dan nilai tukar Rupiah.

"Kondisi Rupiah dan fuel itu tentu sangat beda dengan 2019. Dalam 5 tahun, dulu Rp10.500 dan sekarang Rp14.400, fuel dulu USD60 sekarang sekitar USD70. Itu sebabkan kita perlu banyak inovasi untuk penghematan," ujarnya.

 Baca Juga: Garuda Indonesia Terpaksa Naikan Harga Tiket Pesawat, Begini Ceritanya

Dengan perubahan komponen pembentuk harga tersebut, manajemen Garuda pun menyesuaikan tarif yang sebelumnya di kisaran 70% dari TBA.

"Nah ini dinaikan 20%-25% dari TBA atau 95% dari TBA. Nah di sini ada kenaikan tarif, namun kenaikan tertinggi itu dari segmen LCC. Kalau Garuda saya lahir juga memang tinggi. Jadi kita naik 20% karena tidak tahan dengan harga fuel dan kurs yang melemah. Jadi mau tidak mau harus dinaikan," tuturnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini