nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Rusia, Menteri Bambang Pamer Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 24 Mei 2019 20:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 24 20 2060041 di-rusia-menteri-bambang-pamer-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-IJ2TngpNJx.jpg Foto: Dokumentasi Bappenas

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjadi salah satu pembicara kunci dalam The Second Stolypin Forum yang dilaksanakan di Moskwa, Rusia, Kamis (23/5/2019) lalu.

Dalam pidatonya, Menteri Bambang mengelaborasi tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, tantangan ekonomi jangka menengah, hingga cara Indonesia mengimplementasikan reformasi struktural.

Menurutnya, ekonomi Indonesia masih tumbuh diatas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Meskipun harus menghadapi gempuran dari tantangan global.

“Beberapa tahun belakangan, pertumbuhan ekonomi sempat jatuh dibandingkan dengan tahun 2011, namun sejak 2015 sudah mampu kembali menguat dan terus terakselerasi. Pertumbuhan ekonomi yang menguat didorong stabilnya konsumsi rumah tangga dan tingginya pertumbuhan investasi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tumbuh stabil di sekitar 5% dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sementara investasi tumbuh lebih tinggi, di angka 5,4% per tahun,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat, (24/5/2019)

Tingkat investasi yang tinggi adalah hasil dari perkembangan infrastruktur yang telah dijadikan prioritas pemerintah beberapa tahun belakangan, seiring dengan upaya untuk memperbaiki iklim investasi yang juga berkontribusi atas masuknya investasi swasta.

Selain disebabkan meningkatnya investasi, pertumbuhan ekonomi juga didorong tingginya pertumbuhan sektor jasa, utamanya di sektor teknologi informasi dan komunikasi yang mendorong perkembangan dunia digital di Indonesia.

Sementara itu, sektor manufaktur yang dibidik untuk menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, tumbuh rata-rata 4,4% per tahun, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Hasilnya, sektor manufaktur di Produk Domestik Bruto berkurang hingga kini berada di bawah 20%.

“Berdasarkan studi Kementerian PPN/Bappenas, yang paling penting untuk dibenahi, dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, adalah isu regulasi dan kelembagaan. Regulasi di Indonesia sering kali masih restriktif dan sangat mahal, membuat investor segan berinvestasi. Belum lagi masalah korupsi dan tidak efektifnya birokrasi, serta risiko yang harus dihadapi sektor swasta karena kebijakan yang tidak pasti akibat kurangnya koordinasi di pemerintahan. Ini harus diatasi dengan segera dan serius agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih melesat,” jelasnya.

Sejumlah kebijakan disiapkan agar transformasi struktural dapat berjalan dengan baik dan memiliki dampak

yang signifikan. Pertama, memperbaiki regulasi dan kelembagaan dengan memastikan setiap institusi memiliki fungsi yang jelas, dengan kebijakan yang tidak tumpang tindih dan koordinasi yang efektif. Kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur dengan mendorong perluasan internet dan konektivitas jalan sehingga memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi agar menjadi inklusif.

Ketiga, memperbaiki kuantitas dan kualitas pertumbuhan ekonomi, utamanya dengan memperbaiki kualitas tenaga kerja, mengembangkan pelatihan vokasi, hingga mengembangkan skema untuk meningkatkan peran riset dan penelitian.

Keempat, mengembangkan skema pembiayaan alternatif seperti Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) sebagai solusi alternatif untuk mengatasi terbatasnya penerimaan negara dari pajak. Kelima, memperbaiki kualitas sumber daya manusia, terutama dalam peningkatan kesehatan dan pendidikan.

“Di masa depan, Indonesia membutuhkan reformasi kurikulum dan inovasi metode pembelajaran sebagai senjata pamungkas untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kebijakan di sektor kesehatan akan difokuskan untuk kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia,” tutup Menteri Bambang.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini