nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Revisi Pertumbuhan Kredit Bank Imbas Perang Dagang, Ini Faktanya

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 08:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 23 320 2069898 revisi-pertumbuhan-kredit-bank-imbas-perang-dagang-ini-faktanya-Rwal8gNni0.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merevisi ke bawah target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 9% - 11% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2019 karena dampak perang dagang di pasar global yang berimbas ke daya ekspor dan juga kebutuhan pembiayaan dunia usaha.

"Ada beberapa bank yang tertunda (penyaluran kredit). Faktornya beragam. Ada juga karena imbas perang dagang," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso beberapa waktu lalu.

Berdasarkan paparan Wimboh di depan Komisi XI DPR, OJK merevisi pertumbuhan kredit 2019 dari sebelumnya sebesar 10% - 12% (yang disusun Oktober 2018) menjadi 9% - 11% pada tahun ini. Jika dinominalkan pertumbuhan kredit 9% - 11% berarti terjadi penambahan kredit Rp538 triliun.

Revisi Pertumbuhan kredit perbankan ini ternyata meyimpang sejumlah fakta menarik yang berhasil dirangkum Okezone. Berikut faktanya:

1. Imbas Perang Dagang

Perang tarif antara AS dan China telah mengurangi optimisme dunia usaha mengenai kapasitas permintaan ekspor dari negara-negara yang terimbas perang dagang. Oleh karenannya koreksi pertumbuhan kredit itu karena murni faktor ekonomi eksternal, bukan lemahnya permintaan kredit dari domestik.

2. DPK Direvisi Menjadi 7-9%

Selain pertumbuhan kredit, OJK juga merevisi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan menjadi 7% - 9% dari sebelumnya 8% - 10%.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penurunan DPK ini karena tekanan yang menimbulkan dana keluar. Dia tidak merinci penyebab tekanan itu.

3. Kredit Perbankan Masih Positif

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini peningkatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dalam beberapa waktu terakhir, tidak akan berdampak signifikan di Indonesia. Terutama terhadap pertumbuhan kredit perbankan yang menjadi parameter untuk melihat ekspansi dunia usaha.

"Kredit masih sangat positif selama ini. Terutama untuk kredit investasi, modal kerja seperti yang disampaikan Pak Wimboh, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, persis sebelum Lebaran," ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan pertumbuhan kredit perbankan sedang menemui momentum untuk pulih dan bertumbuh di pertengahan tahun ini setelah dalam beberapa tahun terakhir mengalami pelemahan. Dia berharap momentum pertumbuhan itu berlanjut sepanjang 2019. Kondisi tersebut bakal terwujud jika momentum pertumbuhan ekonomi domestik tetap terjaga, dan mampu menangkal dampak perlambatan ekonomi karena adanya perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi, AS dan Tiongkok.

"Tentu pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan harus tetap dijaga supaya optimisme dari para pelaku usaha akan tetap positif sehingga kemudian mereka akan bisa meningkatkan volume usahanya," ujarny

4.Pertumbuhan Kredit Perbankan hingga April Capai 11,05%

Hingga April 2019, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit masih bertumbuh di 11,05% secara tahunan (yoy). Di dalam pertumbuhan kredit itu, terdapat kredit investasi tumbuh 14,34% (yoy), kredit modal kerja 10,48% (yoy), dan kredit konsumsi tumbuh 9,06% (yoy). Derasnya penyaluran kredit didorong sektor pertambangan yang tumbuh hingga 37,6%.

Selain itu, sektor konstruksi tumbuh 27,55% (yoy). Sedangkan sektor pertanian dan pengolahan masing-masing tumbuh 10,65% dan 8,7% (yoy). Adapun risiko kredit perbankan hingga April 2019 berada pada level rendah. Hal ini tercermin dari rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,57% dan NPL bersih sebesar 1,15%. Sementara tingkat kecukupan modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,78%, dan rasio pinjaman terhadap pendanaan (Loan to Deposit Ratio/LDR) menurun menjadi 93% dari 94%.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini