nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Defisit Transaksi Berjalan Bengkak Jadi USD8,4 Miliar, Ini Kata Sri Mulyani

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 09 Agustus 2019 13:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 09 20 2089776 defisit-transaksi-berjalan-bengkak-jadi-usd8-4-miliar-ini-kata-sri-mulyani-OCUhhMVes9.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Dok. KemenPAN-RB)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia kian melebar pada kuartal II-2019 menjadi USD8,4 miliar atau setara 3,04% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal sebelumnya CAD tercatat sebesar USD7 miliar atau setara 2,6% dari PDB.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kueangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan terus berupaya menekan agar CAD tidak semakin melebar. Bahkan diupayakan CAD bisa berada dibawah 3% dari PDB.

"Kami akan terus meningkatkan upaya untuk address itu, seperti yang selama ini sudah disampaikan," ujarnya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II-2019 Naik Jadi Setara 3,04% dari PDB

Diberitakan sebelumnya, CAD Indonesia pada kuartal II-2019 melebar didorong defisit neraca pendapatan primer yang membesar menjadi USD8,7 miliar, dari kuartal sebelumnya yang sebesar USD8,1 miliar. Juga lebih besar bila dibandingkan kuartal II-2018 yang mencapai USD8,02 miliar.

Hal ini dikarenakan faktor musiman peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri. Selain itu, kinerja neraca perdagangan barang juga turut menekan CAD pada kuartal II-2019.

Kinerja ekspor nonmigas tercatat sebesar USD37,2 miliar, turun dibandingkan dengan capaian pada kuartal sebelumnya sebesar USD38,2 miliar. Dipengaruhi perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.

Baca Juga: BI: Investasi Dorong Pertumbuhan Kinerja Industri Pengolahan

Kemudian defisit neraca perdagangan migas juga meningkat menjadi USD3,2 miliar dari USD2,2 miliar pada kuartal sebelumnya. Seiring dengan kenaikan rerata harga minyak global dan peningkatan permintaan musiman impor migas terkait hari raya Idulfitri dan libur sekolah.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini