Penerimaan Cuma 84,4%, Kekurangan Pajak 2019 Capai Rp245,5 Triliun

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 07 Januari 2020 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 07 20 2150252 penerimaan-cuma-84-4-kekurangan-pajak-2019-capai-rp245-5-triliun-mg5RUQ5Gac.jpg Pajak (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak mencapai Rp1.332,1 triliun sepanjang tahun 2019. Realisasi itu mengalami tekanan tercermin dari pertumbuhan yang hanya 1,4%, lebih rendah dari pertumbuhan di tahun 2018 yang sebesar 14,1%.

Adapun penerimaan pajak baru mencapai 84,4% dari target yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp1.577,6 triliun. Artinya terjadi kekurangan penerimaan pajak atau shortfall sebesar Rp245,5 triliun, lebih tinggi dari 2018 yang sebesar Rp110,7 triliun.

Baca Juga: RUU Omnibus Law Perpajakan Diserahkan ke DPR Akhir Pekan Ini

"Pendapatan negara mengalami tekanan karena rembesan perkembangan ekonomi global, terlihat dari realisasi penerimaan pajak," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (7/1/2020)

Realisasi penerimaan itu ditopang PPh non migas yang tumbuh 3,8% dengan nilai Rp711,2 triliun, namun pertumbuhan PPh migas tercatat turun 8,7% dengan nilai Rp89,3 triliun.

Pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) juga turun 0,8% dengan nilai Rp532,9 triliun. Sementara, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak lainnya tercatat tumbuh 10,7% yakni mencapai Rp28,9 triliun.

pajak

Turunnya penerimaan PPh migas, menurut Sri Mulyani, tak terlepas dari menguatnya nilai tukar rupiah, turunnya harga ICP, serta tak tercapainya lifting migas di 2019. "Jadi kalau lihat dari sisi produksi lebih rendah, harga lebih rendah, dan kurs Rupiah lebih kuat, jadi penerimaan dari migas mengalami tekanan karena ketiga hal itu," imbuhnya.

Menurutnya, sektor yang paling terdampak dari ketidakpastian ekonomi global adalah pertambangan dan manufaktur. Sehingga, penerimaan kedua sektor itu mengalami penurunan tajam pada tahun ini.

Penerimaan pajak di sektor pertambangan tercatat mencapai Rp66,12 triliun, turun 19% dibandingkan tahun 2018. Pada sektor manufaktur tercatat sebesar 365,39 triliun, turun 1,8% dibanding tahun sebelumnya.

Baca Juga: Fakta-Fakta Omnibus Law, RUU yang Diajukan ke DPR

"Manufaktur dan pertambangan turun paling dalam. Ini yang menyebabkan penerimaan pajak kita rendah," katanya.

Adapun untuk sektor perdagangan tercatat tumbuh 2,9% dengan realisasi sebesar Rp246,85 triliun, jasa keuangan dan asuransi tumbuh 7,7% dengan realisasi sebesar Rp175,98 triliun, konstruksi dan real estat tumbuh 3,3% sebesar Rp89,65 triliun, serta transportasi dan pergudangan tumbuh 18,7% sebesar Rp50,33 triliun.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini