nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Minyak Stagnan Usai Kesepakatan Dagang AS-China

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 09:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 18 320 2154648 harga-minyak-stagnan-usai-kesepakatan-dagang-as-china-iqJFdrF3FY.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA - Harga minyak tidak bergerak banyak pada perdagangan 17 Januari 2020. Harga minyak stagnan karena pertumbuhan ekonomi yang lamban di China membuat importir minyak mentah terbesar di dunia meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan. Perlambatan ekonomi juga menekan optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang China-AS.

Minyak mentah Brent berjangka naik 23 sen menjadi USD64,85 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka naik 2 sen menjadi USD58,54 per barel. Untuk minggu ini, Brent turun 0,2%, sementara WTI kehilangan 0,8%.

Ekonomi China tercatat hanya tumbuh 6,1% pada tahun 2019. Ini level terendah selama 29 tahun. "Tekanan ekonomi yang meningkat mungkin akan membatasi kenaikan minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang," kata Analis pasar di CMC Markets Margaret Yang dilansir dari Reuters, Sabtu 18/1/2020).

Pada 2019, kilang China memproses 651,98 juta ton minyak mentah, setara dengan rekor tertinggi 13,04 juta barel per hari (bpd) dan naik 7,6% dari 2018, data pemerintah menunjukkan.

"Peningkatan kapasitas kilang China membentuk kembali aliran perdagangan produk olahan, sementara peningkatan produksi minyak mentah AS membentuk kembali aliran perdagangan minyak mentah," kata Konsultan Petromatrix Olivier Jakob.

Sementara itu, pasokan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak akan melebihi permintaan minyak mentahnya. Perkiraan IEA, jika negara-negara anggota OPEC sepenuhnya mematuhi pemotongan produksi yang disepakati dengan Rusia dan produsen lain dalam kelompok yang dikenal sebagai OPEC+. Pandangan IEA agak tercermin oleh pandangan OPEC sendiri, yang menemukan pasokan non-OPEC tahun ini tumbuh lebih dari permintaan keseluruhan. OPEC + telah membatasi produksi minyak sejak 2017 untuk menyeimbangkan pasar dan mendukung harga.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini