Minyak Mentah Anjlok, Menko Luhut: Terlalu Cepat untuk Turunkan Harga BBM

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 16 Maret 2020 19:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 16 320 2184244 minyak-mentah-anjlok-menko-luhut-terlalu-cepat-untuk-turunkan-harga-bbm-riiN4fcOm9.jpg Minyak Mentah (Reuters)

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan pada awal pekan ini. Di mana, minyak mentah dibanderol di USD30,2 per barel.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dampak penurunan harga minyak dunia tidak berdampak pada Indonesia saja, bahkan di seluruh dunia. Namun, untuk ke harga bahan bakar minyak (BBM) dinilainya masih terlalu awal.

 Baca juga: Formula Baru Harga BBM Terbit, Begini Hitung-hitungannya

"Itu soal ada penurunan harga BBM, terlalu awal memprediksi," ujarnya dalam tele konferensi, Jakarta, Senin (16/3/2020).

Kisruh di pasar minyak ini, lanjutnya, dikarenakan Arab Saudi dan Rusia masih belum menunjukan perdamaian. Pasalnya, bila sudah mencapai kesepakatan bisa dimungkinkan harga minyak akan naik cepat.

 Baca juga: Harga BBM Pertamax Turun Rp650, Kini Dijual Rp9.200 per Liter

"Karena kita belum tahu kalau Saudi Arabia dan Rusia damai akan naik lagi cepat," ujarnya.

Sebelumnya, harga minyak mentah Brent turun USD1,83 menjadi USD32,02 per barel, memperpanjang penurunan lebih dari 20% minggu lalu.

Sementara itu, harga minyak mentah AS turun USD1,53 ke USD30,20 per barel, setelah tergelincir di bawah USD30 di awal sesi, meskipun janji Presiden Trump AS untuk menaikkan cadangan minyak strategis di konsumen minyak terbesar dunia.

 Baca juga: Bos Pertamina : Kuota Solar Subsidi Habis Akhir Bulan Ini

Pasar minyak berada di bawah tekanan kuat dari kedua kekhawatiran tentang kehancuran permintaan karena pandemi virus korona menyebar dan kelebihan pasokan setelah eksportir utama Arab Saudi meningkatkan produksinya dan memangkas harga untuk meningkatkan penjualan kepada konsumen di Asia dan Eropa.

"Ketika pemerintah di seluruh dunia meningkatkan upaya mereka untuk mengendalikan dan meminimalkan kerusakan kesehatan dan ekonomi, para investor waspada akan respons bank sentral yang lebih banyak," kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini