Share

Fakta Menarik Rupiah Menguat ke Rp14.800/USD di Tengah Covid-19

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 02 Mei 2020 11:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 02 278 2208024 fakta-menarik-rupiah-menguat-ke-rp14-800-usd-di-tengah-covid-19-Ct1mbyQULd.jpg Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tajinya pada akhir April 2020. Setelah sempat terseok-seok menembus level Rp16.000 per USD, kini mata uang Garuda berhasil menguat ke level Rp14.881 per USD.

Penguatan Rupiah di bawah level Rp15.000 per USD sesuai prediksi Bank Indonesia (BI) di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

BI juga telah memaparkan kondisi terburuk Rupiah bisa menembus level Rp17.000 hingga Rp20.000 per USD. Namun, BI tidak akan tinggal diam jika Rupiah melemah terlalu dalam.

Melemah Berhari-Hari, Rupiah Ditutup Menguat 75 Poin 

Berikut fakta-fakta penguatan Rupiah seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (2/5/2020).

1. Akhir April, Rupiah Hantam Dolar AS ke Rp14.881/USD

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian menguat hingga akhir perdagangan di bulan ini. Rupiah naik di kisaran Rp14.000-an per USD.

Mengutip Bloomberg Dollar Index, Kamis (30/4/2020) pukul 17.25 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 413 poin atau 2,7% ke level Rp14.881 per USD. Rupiah bergerak di kisaran Rp14.881-Rp15.162 per USD.

Sementara itu, Yahoo Finance mencatat Rupiah menguat 72 poin atau 0,46% ke Rp15.412 per USD. Rupiah tercatat bergerak di kisran Rp15.350-Rp15.484 per USD.

2. Gubernur BI: Rupiah Sudah di Bawah Rp15.000/USD

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan nilai tukar Rupiah sekarang ini sudah menguat. Bahkan, kini nilainya sudah di bawah level psikologis Rp15.000 per USD.

“Kami confident bahwa Rupiah akan menguat dan mengarah ke Rp15.000 di akhir tahun. Itu pertanyaan minggu lalu dan sekarang sudah di bawah Rp15.000,” jelas Perry.

  Rupiah Melemah Pagi Ini ke Rp15.525/USD

3. Alasan Rupiah Bisa Menguat

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ada beberapa alasan mengapa dirinya masih optimis Rupiah bisa bergerak ke level Rp15.000 per USD.

Alasan pertama, saat ini nilai tukar Rupiah masih undervalue atau berada dibawah harga sebenarnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai tukar Rupiah masih undervalue. Pertama karena defisit transaksi berjalan masih lebih rendah karena diperkirakan pada berada di bawah 2,5% dari Product Domestic Bruto (PDB).

"Pertama fundamental Rupiah saat ini sekitar Rp15.400 undervalue kenapa? Defisit transaksi berjalan lebih rendah semula diperkirakan 2,5% sampai 3% dari PDB, Insya Allah triwulan I di bawah 1,5% dari PDB keseluruhan tahun di bawah 2,5%. Jika defisit transaksi berjalan lebih rendah berarti kekurangan devisa juga lebih rendah makanya mendukung penguatan rupiah ke fundamental," ujarnya dalam telekonferensi, Rabu (29/4/2020)

Selain itu, ada juga faktor eksternal dari pasar keuangan di Amerika Serikat. Menurut Perry, premi risiko VIX pasar keuangan di Amerika Serikat saat ini berada diangka 38 dari sebelum adanya pandemi Corona ini di angka 20.

"CDS itu adalah premi risiko perbedaan untuk global bond dengan UST. Swap rate sebelum covid 60. Dulu pernah maret minggu kedua 270 sekarang 216. Isnyalah akan lebih rendah nanti. Kalau premi risiko rendah akan mendorong yang sekarang Rp15.400 mengarah ke fundamanetal," jelasnya.

Lalu lanjut, Perry, alasan kedua adalah pihaknya akan terus melakukan intervensi sehingga posisi rupiah terus bertahan dengan mekanisme jual beli gang normal. Ditambah, stimulus fiskal yang akan diberikan pemerintah membuat kepercayaan investor semakin tinggi.

"BI akan terus menjaga pasar stabilitas rupiah. Kalau diperlukan akan intervensi spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Perry.

Lalu alasan ketiga adalah karena arus modal asing akan segera membanjiri Indonesia. Meskipun diakui Perry, saat ini arus modal asing masih kecil, namun jika dilihat dari penawaran, minat beli Surat Berharga Negar (SBN) semakin meningkat.

"Inflow Insya Allah akan masuk, sekarnag memang masih seret kadang masuk keluar, tapi bid coverage ke SBN meningkat . Maka minat beli SBN akan meningkat," kata Perry

Kemudian yang terakhir adalah premi risiko yang akan kembali turun. Hal ini didorong oleh akan meredanya pandemi virus corona (covid-19) di dalam maupun luar negeri.

"Keempat premi risiko, yang sekarang masih relatif tinggi, siylaah mereda covid akan mereda ke sebelum covid. Itu keempat faktor Insya Allah Rupiah bergerak stabil dan menguat kearah Rp15.000 per USD," kata Perry.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini