JAKARTA - Berbagai negara mengeluarkan kebijakan di luar biasa (extra ordinary) untuk menangani dampak pandemi virus corona atau Covid-19. Salah satu contohnya mengeluarkan stimulus ekonomi yang angkanya fantastis.
Amerika Serikat (AS) pun rela mengutang demi menangani dampak pandemi virus corona. Utang ini diambil AS setelah negaranya terdampak paling parah akibat virus corona.
AS mengajukan utang senilai USD3 triliun atau setara Rp45 kuadriliun (Rp45.000 triliun). Padahal AS juga sudah meluncurkan paket stimulus USD2,2 triliun atau setara Rp35.200 triliun (kurs Rp16.000 per USD).
Berikut fakta-fakta soal AS tambah utang Rp45.000 triliun untuk mendanai paket stimulus penanganan virus corona, Jakarta, Sabtu (9/5/2020).
1. Tambah Utang Rp45.000 Triliun
Amerika Serikat (AS) mengajukan utang senilai USD3 triliun atau setara Rp45 kuadriliun (Rp45.000 triliun) pada kuartal kedua untuk mendanai paket stimulus terkait virus corona (Covid-19).
2. Utang untuk Stimulus Ekonomi
Paket stimulus tersebut turut mencakup pendanaan kesehatan serta bantuan langsung tunai. Paket-paket tersebut diperkirakan bernilai sekitar 14% dari perekonomian AS. Pemerintah juga memperpanjang tenggat pembayaran pajak tahunan pada 15 April, sehingga menambah krisis uang tunai.

3. Catat Rekor Baru
Permintaan utang terbaru melampaui rekor utang AS sebelumnya hingga lima kali lipat. Pada 2009 silam, AS berutang USD1,28 miliar atau setara Rp19,2 triliun. Total utang pemerintah AS sekarang mendekati USD25 trilliun, atau sekitar Rp276 kuadriliun.
4. Pembahasan Stimulus
Saat ini, pemerintah AS tengah membahas stimulus-stimulus tambahan, meski politisi Partai Republik menyatakan kekhawatiran pada dampak pengeluaran pada utang nasional yang terus melonjak.
AS berutang dengan menjual obligasi pemerintah. Secara historis obligasi pemerintah memiliki suku bunga yang relatif rendah karena dipandang minim risiko oleh investor di seluruh dunia.
Tetapi bahkan sebelum virus corona, beban utang negara melonjak ke tingkat yang dipandang banyak ekonom berisiko untuk pertumbuhan jangka panjang, karena negara tersebut menghabiskan lebih banyak dari pendapatan.
5. Defisit Anggaran
Kantor Anggaran Kongres AS bulan lalu memperkirakan defisit anggaran akan mencapai USD3,7 triliun, atau sekitar Rp55,6 kuadriliun tahun ini, sementara utang nasional melonjak di atas 100% dari PDB.
6. Upaya Pemulihan Ekonomi
Ketua Bank Sentral Amerika, Jerome Powell, mengatakan dia ingin melihat neraca pemerintah AS berada dalam posisi yang lebih baik sebelum pandemi.
Namun, ia mengatakan pengeluaran yang dilakukan sekarang penting untuk meredam hantaman pandemi terhadap ekonomi, karena perintah untuk menutup bisnis guna memperlambat penyebaran virus telah menyebabkan setidaknya 30 juta penduduk Amerika kehilangan pekerjan.
"Mungkin ekonomi akan membutuhkan lebih banyak bantuan dari kita semua jika kita ingin pemulihan yang kuat," katanya.
Sebagai bagian dari upaya meringankan bebannya sendiri, Bank Sentral Amerika telah membeli lebih dari US1 triliun, atau setara Rp15 kuadriliun, dalam bentuk treasury selama beberapa pekan terakhir.
7. Pemegang Utang
Investor dari negara-negara asing merupakan pemegang utang AS yang signifikan. Jepang, China, dan Inggris berada di urutan teratas pada Februari.
Ketegangan yang meningkat antara AS dan China selama beberapa tahun terakhit telah memperbaharui pengawasan terhadap posisi utang Amerika.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.