Dolar AS Menguat Tipis 0,1%

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 16 Mei 2020 07:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 16 278 2214933 dolar-as-menguat-tipis-0-1-qnRRv7NeO8.jpg Dolar AS Menguat Terhadap Mata Uang Lainnya. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,1% terhadap sekeranjang mata uang di tengah meningkatnya ketegangan Sino-AS. Sedangkan dolar Australia alami penurunan mingguan lebih dari 1% karena ancaman gelombang kedua infeksi virus corona mengguncang investor.

Tercatat dolar Australia dan dolar Selandia Baru keduanya turun 0,6%, masing-masing menjadi 0,6428 dan 0,5956. Dolar Aussie berada di jalur untuk penurunan 1,4% sejak Senin.

Kemudian Yen naik 0,2% ke level USD106,99, tetapi telah merosot lebih rendah minggu ini karena Federal Reserve AS membicarakan prospek tingkat negatif, sehingga menguatkan dolar. Pound Inggris tetap di bawah tekanan atau melemah 0,6% menjadi USD1,2155.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Menguat Merespons Pernyataan The Fed

Untuk diketahui, total kasus di Jerman meningkat sebesar 913 menjadi 173.152 pada Kamis 14 Mei dan jumlah kematian meningkat 101 menjadi 7.824 setelah negara itu mengurangi penguncian secara nasional.

Infeksi baru tercatat di negara-negara lain yang telah mengurangi pembatasan, mengurangi optimisme investor sebelumnya bahwa ekonomi akan segera kembali normal.

Baca Juga: Semakin Murah, Harga Emas Antam Turun Rp7.000 Dibanderol Rp928.000/Gram

Ketika harapan memudar untuk pemulihan global yang cepat dari pandemi, investor mengurangi investasinya di Aussie yang sensitif terhadap perdagangan dan pindah ke aset yang lebih aman seperti dolar.

"Risiko jelas bahwa pembukaan ekonomi membutuhkan waktu lebih lama untuk terwujud dengan apa yang didiskon pasar," kata Kepala Penelitian Makro dan FICC Carl Hammer, dilansir dari Reuters, Sabtu (16/5/2020).

Euro terhadap dolar AS berada pada level pada USD1,0799. Mata uang umum bertahan setelah output ekonomi Jerman berkontraksi sebesar 2,2% pada kuartal pertama.

Jerman tergelincir ke dalam resesi setelah mengalami kontraksi kuartalan tertajam sejak krisis keuangan 2009 ketika toko-toko dan pabrik ditutup pada pertengahan Maret. Selain itu, ekonomi zona euro mengalami kontraksi terdalam dalam catatan dalam tiga bulan pertama tahun ini terhadap kuartal sebelumnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemunduran lebih lanjut hubungannya dengan China terkait wabah corona, dengan mengatakan tidak berminat untuk berbicara dengan Presiden Xi Jinping. Bahkan AS dapat memutuskan hubungan dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini