Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Suku Bunga Acuan BI Turun Jadi 4,25% demi Lawan Corona, Ini 5 Faktanya

Taufik Fajar , Jurnalis-Sabtu, 20 Juni 2020 |10:17 WIB
   Suku Bunga Acuan BI Turun Jadi 4,25% demi Lawan Corona, Ini 5 Faktanya
BI Turunkan Suku Bunga Acuan (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7RR) sebesar 25 basis points (bps) ke level 4,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar 17 Juni-18 Juni 2020. Sebelumnya, suku bunga acuan di level 4,5%

Sementara, suku bunga deposit facility juga turun sebsar 25 bps menjadi 3,5% dari 3,75% dan suku bunga lending facility juga turun sebesar 25 bps menjadi 5% dari 5,25%.

BI mempunyai alasan kuat menurunkan suku bunga acuan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Baca Juga: Tertekan Covid-19, BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hanya 0,9%-1,9% 

Berikut fakta-fakta menarik soal BI turunkan suku bunga acuan seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (19/6/2020):

 

1. Alasan BI Turunkan Suku Bunga

Bank Indonesia memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi 4,25%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk memulihkan ekonomi di tengah pandemi virus corona.

"Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi di era Covid-19," ujar Perry.

Baca Juga: Akhirnya BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25% 

2. Punya Peluang Turunkan Kembali Suku Bunga

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 4,25%, konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi di era Covid-19.

"Ke depan, Bank Indonesia tetap melihat ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Perry.

 

3. Kebijakan BI

Kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dan pelonggaran likuiditas (quantitative easing) akan terus dilanjutkan. Bank Indonesia juga memutuskan untuk memberikan jasa giro kepada bank yang memenuhi kewajiban GWM dalam Rupiah baik secara harian dan rata-rata sebesar 1,5% per tahun dengan bagian yang diperhitungkan untuk mendapat jasa giro sebesar 3% dari DPK, efektif berlaku 1 Agustus 2020.


4. Jaga Stabilitas Makroekonomi

BI juga memperkuat bauran kebijakan serta bersinergi erat mengambil langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan secara terkoordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta pemulihan ekonomi nasional.

"Dalam hal ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk pendanaan APBN melalui pembelian SBN dari pasar perdana maupun penyediaan dana likuiditas bagi perbankan untuk kelancaran program restrukturisasi kredit (pembiayaan) dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

5. BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hanya 0,9%-1,9%

 

Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 berada di kisara 0,9% sampai 1,9%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mulai membaik pada kuartal III-2020.

“Kuartal II turun cukup dalam kemudian secara perlahan meningkat di triwulan III maupun IV dengan perkembangan itu kami perkirakan untuk keseluruhan tahun pertumbuhan ekonomi (full year) kisarannya 0,9%-1,9%,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement