Investor Saham Was-was Jelang Laporan Keuangan, Dapat Cuan Enggak Ya

Aditya Pratama, Jurnalis · Selasa 14 Juli 2020 11:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 278 2246019 investor-saham-was-was-jelang-laporan-keuangan-dapat-cuan-enggak-ya-q6VnVaTKWK.jpeg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Founder Ellen May Institute & Emtrade Ellen May menyebut, saat ini para investor sedang dalam tahap melihat dan menunggu (wait and see) di situasi pasar saham. Hal ini dikarenakan dari situasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung bergerak positif mengikuti kondisi pasar global.

Ellen mengatakan, dari kenaikan indeks Dow Jones dan IHSG sendiri sudah mulai terbatas memasuki semester II tahun 2020. Selain itu, investor juga tengah menunggu waktu perilisan laporan keuangan atau earning season.

"Jadi, menunggu laporan keuangan dari Kuartal II itu sendiri. Penguatan tipis ini juga kemarin sempat tertekan ya indeks Dow Jones dan kemudian ditutup menguat tipis itu dipengaruhi juga oleh pelaku pasar yang cenderung wait and see menjelang earning season," ujar Ellen dalam acara Market Opening IDX Channel, Selasa (14/7/2020).

Baca Juga: Kabar Baik! Cuma Modal Rp12,5 Juta Perusahaan Bisa Melantai di Bursa 

Ellen berpendapat, pada situasi pandemi Covid-19 saat ini telah membaik untuk sektor perekonomian, karena sejumlah lockdown di berbagai negara telah dibuka, begitu juga relaksasi PSBB di Tanah Air yang telah memasuki masa transisi.

"Earning season untuk kuartal II sangat mengkhawatirkan karena terjebak pandemi sudah pasti hasilnya akan lebih buruk dari kuartal I. Untuk perekonomian sendiri saat ini sebenarnya Indonesia memang tertekan tapi tidak seburuk negara lainnya seperti Singapura yang sudah confirm resesi, dan kemudian Malaysia, India, mereka juga pelemahannya lebih dalam untuk negara negara berkembang," kata dia.

Baca Juga: Nilai Transaksi Harian BEI Turun 29,06% 

Selain itu, jika dilihat secara PMI Manufaktur, di Amerika Serikat, China dan Indonesia telah mengalami peningkatan. Baik di AS maupun China telah menunjukkan tingkat ekspansi dari manufaktur, seperti di China sudah lebih dari 50, sementara itu di AS mendekati angka 50.

"Kalau di Indonesia saat ini masih berada di atas 39,1 pada Juni kemarin, naik dari bulan sebelumnya. Tapi di Indonesia kalau kita lihat masih di bawah angka 50, artinya ini masih kontraksi tapi sudah membaik," ucap Ellen.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini