Presiden: Kalau Lockdown, Ekonomi RI Bisa Minus 17%

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 16 Juli 2020 07:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 16 20 2247153 presiden-kalau-lockdown-ekonomi-ri-bisa-minus-17-exrfJL4U4k.jpg Presiden Jokowi (Foto: Setkab)

JAKARTA – Pemerintah lebih memilih menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari pada lockdown. Sebab, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan bisa minus hingga 17% apabila menerapkan kebijakan lockdown.

"Beruntung sekali, kita sekarang ini, kondisi ekonomi kita, meskipun di kuartal kedua pertumbuhannya kemungkinan, ini dari hitungan pagi tadi yang saya terima, kuartal kedua mungkin kita bisa minus ke 4,3%. Di kuartal pertama kita masih positif 2,97%, 2,97%. Saya enggak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17%," ucap Jokowi dikutip dari laman Setkab, Kamis (16/7/2020).

Baca juga: Ekonomi RI Diprediksi 0,4%, Belanja Negara Bakal Membengkak?

Jokowi menurutkan, sekira tiga bulan lalu Managing Director International Monetary Fund (IMF) meneleponnya. Dia menyebut perekonomian dunia bakal terkontraksi dan global growth-nya hanya akan tumbuh sekitar minus 2,5%. Namun perkembangan terakhi, Bank Dunia mengatakan, David (Presiden Bank Dunia, David Malpass) mengatakan, minus 5%.

“OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), angkanya sudah berubah total lagi, sangat dinamis, harian ini, ketidakpastian ini harian, bukan mingguan, harian. Terakhir sudah berada pada angka minus 6 sampai minus 7,6%. Betapa beratnya situasi ini," tuturnya.

Baca juga: Sri Mulyani Kerja Keras Pulihkan Ekonomi di Kuartal III dan IV-2020

Jokowi melanjutkan, pada 2020, perkiraan itu sudah berubah total. Berdasarkan laporan yang ia terima dari OECD, perekonomian Prancis minus 17,2%. Kemudian Inggris minus 15,4%, Jerman minus 11,2%, dan Amerika Serikat minus 9,7%.

"Minus semuanya, negara-negara minus, enggak ada yang plus semua. Padahal di awal, kita…, IMF itu memperkirakan masih plus, (negara) yang plus itu China, India, Indonesia. Oleh sebab itu, saya minta pada para Gubernur, agar rem dan gasnya ini diatur betul. Jangan sampai tidak terkendali. Enggak bisa kita ngegas yang hanya ekonominya saja enggak bisa, ya Covid-19 nya juga nanti malah naik ke mana-mana, enggak bisa. Dua-duanya ini harus betul-betul di gas dan remnya diatur betul, semuanya terkendali semuanya," tuturnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini