Share

Kebut Realisasi Anggaran PEN, Konsumsi Masyarakat Bisa Meningkat?

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 25 Agustus 2020 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 25 20 2267088 kebut-realisasi-anggaran-pen-konsumsi-masyarakat-bisa-meningkat-d6sYJFncbd.jpg Ekonomi RI (Shutterstock)

JAKARTA - Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dinilai suadh banyak segmen yang disasar. Namun, realisasi anggarannya masih terlalu minim.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebutkan, konsumen kalangan bawah sudah dirancang dan diberikan bansos, lalu juga stimulus tambahan untuk ke konsumen golongan menengah. Dalam hal ini pegawai non PNS dengan gaji di bawah Rp5 juta dan yang ter-PHK.

 Baca juga: 1,5 Bulan Jadi Penentu Ekonomi RI Kuartal III, Apakah Resesi?

"Kalau ingin konsumsi meningkat, ya berarti implementasi PEN harus dipercepat. Karena implementasi yang cepat berarti pemulihan ekonomi yang lebih cepat pula," ujar Faisal dalam Market Review IDX Channel di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Dirinya mengatakan, termasuk dalam realisasi PEN ini adalah penanggulangan wabah Covid-19. Di mana, angkanya, dia sayangkan masih sangat rendah.

 Baca juga: Kurang 1,5 Bulan Lagi, Ini Cara Sri Mulyani Cegah Resesi

"Berdasarkan alokasinya hingga 12 Agustus 2020, realisasinya masih sangat kecil, yaitu 8,1%. Ini yang menurut saya sangat berkolerasi dengan tingkat konsumsi menengah ke atas," ungkap Faisal.

Dia menjelaskan, konsumsi memiliki layer atau lapisan yang banyak, dan berbeda untuk level bawah, menengah, dan atas.

 Baca juga: Anggota DPR Nangis Minta Sri Mulyani Gercep Serap Anggaran PEN

"Level tengah berarti ada stimulus khusus kepada orang-orang yang masih punya kebutuhan spending bersifat sekunder dan tersier, tapi mereka menjaga atau tidak cepat-cepat membeli dulu karena kekhawatiran kondisi kedepannya, sehingga mereka menabung. Ini juga kenapa harga emas melambung tinggi di atas Rp1 juta per gram," jelasnya.

Dia mengatakan, hal serupa juga berlaku ke konsumen kalangan atas. "Konsumen kalangan atas juga. Kenapa? Dari aspek psikologis pula, mereka memandang prospek kedepannya bagaimana," tutur Faisal.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini