4 Fakta Sulitnya Pencairan JHT, Nomor 3 Banyak Calo

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 21 September 2020 07:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 20 320 2280804 4-fakta-sulitnya-pencairan-jht-nomor-3-banyak-calo-Nym2cr67lS.jpg Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan pekerja jadi fenomena saat pandemi virus corona atau Covid-19. Bagi pekerja yang terkena PHK, banyak yang mencairkan Jaminan Hari Tua (JHT) dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Sebab, masih banyak korban PHK tidak mendapat pesangon.

Terkait adanya hal tersebut Okezone sudah merangkum beberapa fakta mengenai pencairan JHT jadi sulit ketika banyak yang terkena PHK, Jakarta, Senin (21/9/2020).

Baca juga: Syarat Dapat Diskon 99% Iuran BPJS Ketenagakerjaan

1. Sistem Online dan Pembatasan Waktu Menyulitkan Peserta Saat Ingin Mencairkan

Para peserta kesulitan mencairkan karena batas waktu operasional dan kesulitan teknis secara online.

"Karena adanya kebijakan WFH di kantor BPJS, klaim JHT secara online menjadi alternatif. Namun tidak semua pekerja bisa mengurus sendiri, karena banyak yang gagap teknologi," ujar Ketua Masyarakat Peduli BPJS Hery Susanto dalam diskusi daring.

Baca juga: Menaker: Istimewa, Relaksasi Iuran BPJS Ketenagakerjaan Sampai 99%

2. 5 Provinsi Jadi Daerah yang Paling Banyak Klaim JHT

Lonjakan pengambilan klaim JHT tersebar di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah DIY dan Jawa Timur. Karena wilayah tersebut merupakan basis pekerja.

3. 70% Peserta BP Jamsostek Menggunakan Jasa Calo.

Namun masih tidak semua terpenuhi klaim JHT-nya. Karena adanya pembatasan kuota saat pandemi 50-100 orang per hari per cabang. "Ini membuat situasi sulit bagi pekerja," ujarnya.

4. 7 Daerah Tidak Menerima Dana Investasi BP Jamsostek

Hery juga mempertanyakan pengelolaan dana investasi BP Jamsostek yang distribusinya merugikan beberapa Bank Pembangunan Daerah (BPD). Sementara daerah tersebut menyetor relatif banyak iuran BP Jamsostek.

"Ada 7 daerah yang tidak menerima dana investasi BP Jamsostek misalnya Bank DKI. Padahal DKI Jakarta kontributor iuran terbesar nasional sekitar 43%," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini