Ramalan Resesi Jadi Pukulan Telak Pasar Keuangan

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 15:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 320 2282511 ramalan-resesi-jadi-pukulan-telak-pasar-keuangan-0HhLTDXQCi.jpg Ramalan Indonesia Resesi Tekan Pasar Keuangan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih melemah. Diperkiraan pergerakan Rupiah hari ini berada pada level Rp14.700-Rp14.950 per USD.

Mengutip data Treasury MNC Bank, Rabu (23/9/2020), Rupiah pada perdagangan Selasa 22 September ditutup melemah 0,58% atau 85 poin ke level Rp14.785 per USD. Kurs tengah BI juga melemah 0,40% menjadi Rp14.782 per USD. Sementara dolar index menguat 0,11% menjadi 93.756.

Baca Juga: Rupiah Semakin Tertekan, Lawan Dolar AS Tersungkur ke Rp14.802/USD

Informasi mengenai skandal pencucian uang bank raksasa dunia, kemungkinan lockdown di Inggris, aksi jual Wall Street, rencana amandemen undang-undang Bank Indonesia, hingga ramalan resesi Indonesia oleh Menteri Kuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pukulan telak bagi pasar keuangan Indonesia.

"Kemenkeu yang tadinya melihat ekonomi kuartal III minus 1,1% hingga positif 0,2%, dan yang terbaru per September 2020 ini minus 2,9% sampai minus 1,0%. Negatif teritori pada kuartal III ini akan berlangsung di kuartal IV. Namun kita usahakan dekati nol," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers Selasa kemarin.

Dari prediksi tersebut, resesi pasti terjadi di Indonesia, dan menjadi yang pertama sejak tahun 1999.

Baca Juga: Dolar AS Perkasa di Tengah Kegelisahan Pasar Keuangan

Sri Mulyani juga mengatakan untuk sepanjang 2020, PDB diproyeksikan berada di minus 0,6% sampai minus 1,7%. Resesi tidak bisa dihindari, sebab Indonesia dan dunia sedang berjuang melawan krisis kesehatan akibat Covid-19.

Negara-negara dihadapkan pada pilihan mengutamakan kesehatan atau perekonomian. Pemerintah secara tegas menyatakan keduanya harus berjalan bersama, meski demikian roda perekonomian tentu saja tidak bisa berputar dengan cepat.

Kemarin dollar index kembali naik 0,34% ke 93,974, yang merupakan level tertinggi sejak 27 juli lalu merespon pernyataan Presiden The Fed Chicago, Carles Evans.

Di acara Official Monetary dan Financial Institution Forum, Evans mengatakan ekonomi AS berisiko dalam jangka panjang, mengalami pemulihan yang lambat, dan tidak bisa langsung keluar dari resesi tanpa bantuan stimulus fiskal. Evans juga melihat open-ended program pembelian aset The Fed mampu menyediakan bagian penting untuk pemulihan ekonomi.

"Segera setelah kita berhasil mengatasi virus corona, anda akan melihat ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, dan seharusnya membuat dolar terus menguat," tambahnya.

Evans bukan merupakan anggota komite pembuat kebijakan moneter (FOMC) di tahun ini, sehingga ia tak memiliki suara dalam memutuskan suku bunga. Tetapi pada tahun depan ia akan menjadi anggota FOMC, sehingga pasar melihat ada kemungkinan suku bunga akan naik sebelum 2023. Hal ini membuat rupiah dan SUN berisiko tertekan kembali hari ini.

Di acara Official Monetary dan Financial Institution Forum, Evans mengatakan ekonomi AS berisiko dalam jangka panjang, mengalami pemulihan yang lambat, dan tidak bisa langsung keluar dari resesi tanpa bantuan stimulus fiskal. Evans juga melihat open-ended program pembelian aset The Fed mampu menyediakan bagian penting untuk pemulihan ekonomi.

"Segera setelah kita berhasil mengatasi virus corona, anda akan melihat ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat, dan seharusnya membuat dolar terus menguat," tambahnya.

Evans bukan merupakan anggota komite pembuat kebijakan moneter (FOMC) di tahun ini, sehingga ia tak memiliki suara dalam memutuskan suku bunga. Tetapi pada tahun depan ia akan menjadi anggota FOMC, sehingga pasar melihat ada kemungkinan suku bunga akan naik sebelum 2023. Hal ini membuat rupiah dan SUN berisiko tertekan kembali hari ini.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini