Curhat Menparekraf Pulihkan Pariwisata di Tengah Pandemi: Maju Kena Mundur Kena

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 16 Desember 2020 19:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 320 2328964 curhat-menparekraf-pulihkan-pariwisata-di-tengah-pandemi-maju-kena-mundur-kena-QkNMzqokKZ.jpg Menparekraf Wishnutama (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pandemi covid-19 mempengaruhi hampir sebagian semua sektor bisnis di Indonesia. Salah satu yang paling terkena dampaknya adalah industri pariwisata yang menjadi sektor pertama yang tiarap saat pandemi covid datang.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, upaya pemerintah untuk memulihkan kembali industri pariwisata tidak mudah. Karena dirinya dihadapkan oleh pilihan yang serba salah.

Baca Juga: Yogyakarta Integrasikan Potensi Wisata Giwangan

Wishnutama pun mengibaratkan hal tersebut seperti salah satu film jadul komedian legendaris Warkop DKI. Di mana grup lawak legendaris yang digawangi oleh Dono, Kasino dan Indro itu memiliki film berjudul maju kena mundur kena.

"Jadi memang upaya-upaya ini tidak mudah saat ini untuk dilakukan, bisa dibilang ini salah begitu salah serba salah, maju kena mundur kena kalau kata film jaman dulu," ujarnya dalam acara penandatanganan virtual, Rabu (16/12/2020).

Baca Juga: Adu Strategi Majukan Pariwisata Sulteng, Bikin Festival Karang hingga Bangun Koneksi

Oleh karena itu lanjut Wishnutama, dibutuhkan kerjasama yang erat dari para pelaku usaha yang terlibat di dalam sektor pariwisata tersebut. Contohnya adalah antara pihak maskapai penerbangan, perhotelan hingga travel agent yang harus saling bersinergi untuk memajukan pariwisata Indonesia.

"Ke depan kita harus sering ketemu untuk diskusi, paling tidak ini positif yang penting PHRI dan aviasi akur. Kita harap ke depan aviasi pariwisata kita jadi lebih baik," jelasnya.

Menurut Wishnutama, bisnis pariwisata dan penerbangan kaitannya dengan pergerakan manusia. Artinya jika adanya pandemi covid-19 ini, maka akan sangat terasa dampak penurunannya karena aktivitas masyarakat dibatasi.

"Jadi sektor penerbangan walau medium digital tapi bisnisnya enggak bisa digital. Ada virtual tour, tapi itu bukan tur hanya promosi tak dapat gantikan dampak ke manusia," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini