Anggaran Disahkan, BLT Rp8,5 Juta Cair

Selasa 29 Desember 2020 07:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 29 320 2335375 anggaran-disahkan-blt-rp8-5-juta-cair-pfb2OE0nrw.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Warga Amerika Serikat akan menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar USD600 (sekitar Rp8,5 juta) per orang. Hal ini seiring dengan pengesahan anggaran pake bantuan covid-19 oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Anggaran tersebut mencakup dana BLT untuk jutaan warga AS yang terdampak pandemi.

Trump sebelumnya menolak menandatangani RUU dan menyebutnya sebagai "pengeluaran mubazir" dan meminta bantuan tunai untuk warga ditingkatkan jumlahnya. Tertundanya pembayaran ini menyebabkan jutaan orang mengalami keterlambatan pembayaran tunjangan pengangguran, imbas yang banyak dialami warga akibat pandemi.

Baca Juga: Heboh BLT UMKM Rp2,4 Juta Dipotong, Kemenkop UKM Angkat Bicara 

Rancangan undang-undang (RUU), paket bantuan bernilai USD900 miliar (Rp12.782 triliun) disepakati oleh Kongres setelah perundingan selama berbulan-bulan. Paket ini termasuk anggaran senilai USD2.3 triliun dengan USD1,4 triliun di antaranya untuk anggaran pemerintah federal, demikian dilansir dari BBC Indonesia, Selasa (29/12/2020).

Dengan ditandatanganinya RUU, ini warga yang terdampak pandemi akan menerima bantuan sekali bayar berjumlah USD600 (sekitar Rp8,5 juta), per orang dewasa dengan tambahan USD600 lagi per anak bagi yang berkeluarga.

Melalui skema bantuan ini, keluarga dengan dua anak dapat menerima USD2.400. Mereka yang mendapatkan bantuan ini adalah individu dengan penghasilan kotor sampai USD75.000 setahun atau kepala keluarga dengan gaji USD112.500 atau pasangan dengan pendapatan bersama USD150.000.

Baca Juga: Pencairan Bansos Tunai Rp300.000 Hampir 100%, Tahun Depan Penerima Ditambah 

Yang pertama kali mendapat adalah mereka yang sudah terdaftar dalam jaringan pemerintah. Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan warga Amerika yang berhak mendapatkan bantuan ini akan menerima dana dalam beberapa hari ini.

"Ini proses yang sangat, sangat cepat. Saya tekankan bahwa orang akan mendapatkan uang pada awal minggu," kata Mnuchin.

Walaupun Trump telah menandatangani RUU itu, permintaannya agar bantuan untuk warga ditingkatkan dari USD600 (sekitar Rp8,5 juta) menjadi USD $2.000 (Rp28 juta) per orang, masih tetap akan diproses.

Dewan perwakilan rakyat Amerika akan melakukan pemungutan suara Senin (28/12) terkait permintaan itu. Tidak jelas apakah para anggota parlemen akan menyepakati pemberian bantuan lebih besar kepada warga ini, langkah yang tidak disetujui oleh banyak pemimpin partai Republik.

RUU paket bantuan stimulus itu disahkan oleh Kongres pada Senin malam (21/12) setelah terjadi tarik ulur selama berbulan-bulan, tetapi menurut Trump paket tersebut "benar-benar memalukan", dan penuh hal-hal yang "mubazir".

Saat itu Trump mengatakan dalam pesan video yang ia unggah di Twitter, "Ini disebut RUU bantuan Covid, tetapi tidak ada sangkut pautnya dengan Covid."

Paket bantuan yang disetujui Kongres USD900 miliar di antaranya adalah bantuan tunai sekali bayar USD600 untuk sebagian besar warga AS, tetapi menurut Trump jumlah bantuan seharusnya USD2.000.

Paket bantuan tersebut digulirkan untuk membantu warga bertahan di masa pandemi dan bantuan itu tercakup dalam RUU belanja pemerintah, termasuk anggaran untuk badan-badan federal sebesar USD1,4 triliun selama sembilan bulan ke depan dan juta bantuan untuk negara-negara lain.

Pernyataan Trump membuat para anggota Kongres tertegun. Pasalnya, kubu Republik dan Demokrat telah membahas RUU paket stimulus ini sejak Juli dan berharap Trump akan menandatanganinya menjadi setelah disahkan Kongres pada Senin malam.

Jika Trump memveto atau menolak meneken RUU sebelum Senin depan, pemerintah AS bisa berhenti beroperasi karena paket ini juga mencakup anggaran untuk badan-badan federal sampai September 2021.

Namun demikian, Presiden Trump belum secara khusus menyatakan akan memveto RUU. Kalaupun ia sampai menempuh langkah tersebut, sebagaimana dilaporkan media AS, Kongres masih dapat mengabaikan vetonya karena RUU ini mendapat dukungan kuat dari Republik maupun Demokrat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini