Dukung Pemanfaatan FABA, Ini Pengaruhnya ke Iklim Investasi

Jum'at 26 Maret 2021 21:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 26 320 2384772 dukung-pemanfaatan-faba-ini-pengaruhnya-ke-iklim-investasi-jPdQOmS8qq.jpg Batu Bara (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penghapusan fly ash and bottom ash (FABA) atau abu hasil pembakaran batu bara dari jenis limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021 sebagai turunan dari UU Cipta Kerja, harus didukung dengan regulasi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya.

Anggota Komite Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rizal Calvary Marimbo mengatakan FABA dulu dianggap tidak ada gunanya. Padahal FABA ini seperti gadis cantik. FABA dulu dilarang-larang, malah menjadi persoalan. Dengan adanya PP, FABA bisa dioptimalkan untuk membantu percepatan pembangunan infrastruktur ke depan.

Rizal mengatakan BKPM sejak satu tahun lalu, melihat persoalan yang paling berat dari investasi bukan promosi ke luar. Mereka sudah tahu, Indonesia tujuan investasi yang luar bisa, begitu juga pasarnya. Tetapi persoalannya ada di domestik. Jadi yang perlu diperbaiki adalah iklim investasi.

“Pertama, perizinan. Kita ini perizinannya paling rumit, ribet. Kedua, regulasi. Regulasi tumpang tindih, termasuk soal FABA. Ketiga, lahan. Mafia-mafia tanah ini. Pemilik tanah yang mafia tanah ini yang harus diberantas,” kata Rizal saat Webinar bertajuk “Peta Jalan Pemanfaatan FABA yang Ramah Lingkungan dan Multiplier Effect Bagi Perekonomian” yang diselenggarakan Energy and Mining Society (E2S) seperti dilansir Antara, Jumat (26/3/2021).

Menurut Rizal, dengan dikeluarkannya FABA dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), iklim investasi ke depan makin baik. “Investasi kita ke depan, tidak hanya soal FABA saja. Maka dengan dikeluarkan FABA dari B3 akan mempengaruhi iklim citra investasi Indonesia lebih baik,” kata dia.

Menurut Rizal, FABA diharapkan menjadi bahan yang mudah diakses oleh industri terkait yang akan mengolah. BKPM juga mengharapkan jangan ada lagi pihak-pihak yang menafsirkan lain soal FABA, karena sudah jelas FABA ini dikeluarkan dari kategori B3.

“Juklak dan juknis yang akan keluar diharapkan tidak memberatkan bagi investor yang ingin berinvestasi soal FABA,” kata dia.

Peneliti FABA dan Dosen Teknik Sipil ITS Surabaya Januarti Jaya Ekaputri mengatakan, pemerintah harus mengeluarkan aturan yang mempermudah. "Karena (aturannya) sudah dirilis, jadi tolong dipermudah, jangan sampai kita kalah sama Vietnam,” katanya.

Menurut Januarti, kehati-hatian pemerintah tentu memiliki maksud yang baik sehingga tidak sembrono dalam penggunaan FABA. Namun berdasarkan hasil penelitian terhadap tikus, penggunaan FABA tidak mematikan, bahkan tikusnya bertambah berat badan.

Potensi pemanfaatan FABA juga dinilai cukup besar. Bahkan, lanjut Januarti, polimer merupakan salah satu produk yang 100% dari fly ash, bisa dipakai mengganti semen. Pemanfaatan fly ash untuk mengganti semen juga terkait dengan isu lingkungan.

“Setiap satu ton semen menghasilkan satu ton CO2. Jadi semakin sedikit semen yang digunakan beton semakin ramah terhadap lingkungan,” kata Januarti.

Direktur Strategi Bisnis dan Pengembangan Usaha PT Semen Indonesia Tbk Fadjar Judisiawan mengatakan bagi industri sebenarnya justru menunggu kejelasan kebijakan pemerintah. “Bagi dunia usaha yang ditunggu adalah tegasnya seperti apa. Karena jika lebih jelas akan lebih gampang hitung-hitungannya,” kata Fadjar.

Menurut Fajar, Semen Indonesia sudah memanfaatkan fly ash yang selama ini diambil dari PLTU yang berada di sekitar wilayah pabrik.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Adaro Power Dharma Djojonegoro mengatakan FABA adalah hasil dari pembakaran batu bara yang biasanya disimpan di lokasi tertentu. Lahan untuk penyimpanan FABA biasanya disiapkan dengan lahan yang lebih luas.

Menurut Dharma, pemanfaatan FABA sudah dilakukan di banyak negara dan paling tidak ada 35 negara yang tidak mengategorikan FABA sebagai limbah B3. FABA banyak sekali dipakai untuk material semen, bahan baku jalan, industri cat dan lain-lain. Bahkan digunakan untuk bahan beton, jalan, dan semen. “Korea Selatan nyaris semua atau 90 persen FABA dimanfaatkan,” katanya.

Menurut Dharma, seiring perubahan peraturan. Adaro mulai menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan. Misalnya digunakan untuk campuran beton, untuk batako. Adaro pun sudah pernah melakukan. “Yang kita teliti, untuk bikin jalan tambang. Untuk memperbaiki jalan tambang. Kami juga teliti juga untuk reklamasi dan lainnya,” kata dia.

Dharma mengatakan penggunaan FABA banyak sekali gunanya. Misalnya untuk jalan tambang. FABA di dua PLTU yang dioperasikan Adaro habis semua. “Begitu aturan keluar, kami akan langsung diimplementasikan,” kata Dharma.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini