Produk Indonesia Dapat Keringanan Bea Masuk 0% ke Australia

Ferdi Rantung, Jurnalis · Selasa 06 April 2021 08:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 320 2389989 produk-indonesia-dapat-keringanan-bea-masuk-0-ke-australia-6ag9lYyLM2.jpg Produk Indonesia Bebas Bea Masuk ke Australia. (Foto: Okezone.com/Pelindo 1)

JAKARTA - Perjanjian perdagangan, IA-CEPA diproyeksikan menjadi sarana optimalisasi keunggulan Indonesia dengan memanfaatkan support dalam supply chain dengan Australia. Hal ini akan meningkatkan daya saing dan daya tembus produk-produk Indonesia di negara ketiga.

“IA-CEPA bukan hanya bermanfaat untuk perdagangan langsung dua negara, tapi juga bisa optimalkan peran powerhouse Indonesia ke negara dunia ketiga. Contohnya Indonesia bisa dapat bahan baku mie instan yang lebih murah dari Australia melalui IA-CEPA sehingga mie instan Indonesia makin tumbuh dan menguasai pasar-pasar baru,” Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga, Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Baca Juga: Oleh-Oleh dari China, Mendag Bawa Kesepakatan Dagang Rp20,04 Triliun

Dalam perjanjian IA-CEPA, ribuan produk asal Indonesia mendapatkan keringanan bea masuk ke Australia sebesar 0%. Ini meningkatkan penetrasi produk Indonesia dalam perjanjian bilateral.

Sebaliknya, Indonesia juga bisa memanfaatkan pasokan bahan mentah dan bahan baku dari Australia di berbagai bidang, khususnya di industri yang jadi keunggulan Indonesia seperti industri olahan pangan, tekstil, alas kaki dan sebagainya.

Baca Juga: Mendag Bidik Ekspor ke AS Rp864 Triliun

Manfaat lain adalah di bidang pengembangan kapasitas. Australia menyediaan 200 visa training setiap tahunnya bagi warga negara Indonesia dengan masa tinggal 6 bulan di Australia. Ini bisa jadi sarana bagus untuk meningkatkan skill bagi WNI dalam berbagai bidang.

Kemendag pun terus mengembangkan ekspor nasional melalui percepatan dan perluasan perjanjian internasional. Saat ini misalnya, Kemendag sedang menjajaki 21 perjanjian perdagangan baru.

Dari jumlah itu, 18 diantaranya adalah perjanjian bilateral, menyasar mitra non-tradisional yang potensial di Afrika, Amerika Latin, Eropa Timur dan Pasifik. 21 perjanjian yang akan digarap itu bakal menyusul kesuksesan penyelesaian 22 perjanjian dagang yang telah ada.

Sementara dari 22 perjanjian dagang yang telah selesai, 13 di antaranya sudah mulai berlaku, dan 9 dalam proses ratifikasi. Selain itu, saat ini Indonesia juga masih membahas 8 perjanjian perdagangan dan meninjau ulang 3 perjanjian yang sudah berlaku.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini