JAKARTA – Tidak hanya pemimpin atau pemilik sebuah perusahaan, karyawan atau bawahan juga diharuskan untuk memiliki sikap profesionalisme. Sebagai seseorang yang direkrut, karyawan mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan.
Dikutip dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Senin (10/5/2021), profesionalisme seorang bawahan, secara teknis adalah mengikuti apa yang diperintah oleh atasan mereka.
Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan
Dalam al-Quran secara tegas diperintahkan untuk taat pada perintah pemimpin, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (seorang pemimpin yang berwenang menangani urusan-urusan kamu) di antara kamu." (QS. an-Nisa [4] : 59)
Namun terkadang karyawan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh atasan walaupun sebetulnya dia tidak mengerti arah dan tujuan yang dimaksud atau apa yang sesungguhnya dibicarakan atasannya. Hal ini bisa menyebabkan dia merasa terjebak pada sebuah rutinitas pekerjaan yang membosankan dan tidak menimbulkan semangat dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW
Hasan ibn Ali meriwayatkan bahwa Rasul bersabda, "Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu dan berbaliklah kepada apa-apa yang tidak meragukanmu. Kebenaran adalah ketenangan, dan kepalsuan adalah keragu-raguan". (Ahmad, Tirmidzi, Nasa'I dan Darimy).
Ada sebuah dilema yang selalu mengiringi sikap ini, terhadap keberlangsungan karier. Logikanya seseorang akan berpikir, "Bagaimana saya akan dapat promosi kalau saya terus mengkritik kebijakan yang diambil oleh perusahaan? Saya akan dapat promosi dengan bekerja sejalan dengan pemikiran direksi".