Share

Ketua Kadin Ungkap Penyebab Harga Vaksin Gotong Royong Rp1 Juta

Suparjo Ramalan, iNews · Rabu 19 Mei 2021 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 320 2412383 ketua-kadin-ungkap-penyebab-harga-vaksin-gotong-royong-rp1-juta-NNv8t3jBbW.jpeg Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Harga vaksinasi gotong royong yang ditetapkan di kisaran Rp1.000.000 per orang. Namun harga tersebut ditanggung perusahaan swasta dan dinilai mahal.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) membeberkan alasan penetapan harga vaksin. Adapun jenis vaksin yang digunakan adalah Sinopharm dan CanSino.

Baca Juga: Erick Thohir Tambah Jumlah Vaksin Gotong Royong Sinopharm dan Cansino

Ketua Umum Kadin, Rosan P Roeslani menjelaskan, penetapan harga vaksin didasari pada hasil survei terlebih dahulu. Survei dilakukan kepada perusahaan yang masuk dalam anggota Kadin dan perusahaan non Kadin. Dari hasil survei ditemukan, 78% perusahaan bersedia harga vaksin di bawah Rp500.000 per karyawan. Sementara sisanya menyanggupi di angka Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

"Pada waktu registrasi kita melakukan survei terlebih dahulu kepada anggota Kadin dan non anggota Kadin, justru yang lebih banyak non anggota. Dari survei itu untuk satu dosis di bawah Rp500.000, 78% ada di range itu, yang sanggup 1 juta sampai 1,5 juta," ujar Rosan, Rabu (19/5/2021).

Baca Juga: Vaksinasi Gotong Royong Dinilai Kemahalan, Pekerja Khawatir Gaji Dipotong

Kadin mencatat, harga vaksin yang ditetapkan juga merupakan hasil masukan dari manajemen sejumlah perusahaan swasta dan pihak pemerintah. Karena itu, patokan tarif vaksinasi mandiri dinilai sudah sesuai.

"Untuk seluruh perusahaan memberikan masukan, berapa masukannya untuk supaya nanti ditetapkan atas masukan PT Bio Farma, juga kepada Kementerian Kesehatan agar jangan sampai ketika harga dimasukkan ternyata mundur. Dan harga ini memang sesuai survei kemampuan dunia usaha yang mendaftar kepada kami," tutur dia.

Terkait hal itu, sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) hingga industri hotel dan restoran menilai tarif vaksinasi mandiri terlalu mahal. Bahkan, tidak semua pengusaha bisa berpartisipasi dalam skema pembiayaan tersebut.

"Kemahalan, tidak mampu usaha UMKM. Mereka akhirnya lebih pada melaksanakan protokol kesehatan saja," kata Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia Ikhsan Ingratubun seperti dilansir BBC News Indonesia.

Keluhan senada juga dirasakan oleh industri hotel dan restoran yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada publik.

"Sebagian hotel dan restoran yang besar memang sudah divaksin, tapi bagaimana dengan hotel dan restoran yang kecil? Kasihan kalau dibebankan biaya segitu, tidak akan mampu," kata Ketua Badan Pimpinan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Sutrisno Iwanton.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini