JAKARTA - Fenomena panic buying kerap terjadi di masa krisis seperti pada saat pandemi saat ini. Belum lama ini, warga masyarakat di beberapa tempat berebut membeli susu kaleng dengan merek tertentu yang dianggap ampuh mengatasi virus. Sebelumnya, sejumlah APD dan obat-obatan tertentu juga lenyap dari pasaran setelah diborong warga di tempat lain. Tindakan panic buying tentu dapat menimbulkan masalah baru.
Baca Juga: Jangan Panic Buying, Kenali Manfaat Susu yang Anda Minum
Psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia Mega Tala Harimukthi mengatakan, panic buying dapat terjadi akibat kesalahan informasi dan aksi preventif berlebihan. Pencegahan yang dilakukan masyarakat justru keliru.
"Kalaupun mau preventif, tidak perlu sampai harus memborong, cukup beli sesuai kebutuhan," kata Tala dikutip dari Okezone (10/07/2021).
Baca Juga: PPKM Darurat Luar Jawa-Bali, Masyarakat Borong Makanan
Pembelian secara impulsif ini tentu akan menyebabkan masalah. Belanja tanpa berpikir panjang dan memborong padahal sedang tidak membutuhkan barang yang diborong itu justru akan menyebabkan kelangkaan. Kelangkaan yang terjadi akhirnya membuat harga produk melambung tinggi dan jelas merugikan banyak pihak, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Deputy Chief Operating Officer AladinMall, Vicky Irawan pun menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang terlibat dalam kepanikan tersebut.
“Panic buying memang sangat meresahkan. Kami berharap agar masyarakat tetap tenang dan membeli sesuatunya sesuai kebutuhan,” ujar Vicky pada Rabu (15/07/2021).