Harga Pertamax Seharusnya Naik Jadi Rp11.100 per Liter, Ini Hitung-hitungannya

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 19 Juli 2021 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 19 320 2442872 harga-pertamax-seharusnya-naik-jadi-rp11-100-per-liter-ini-hitung-hitungannya-F68V6OdUow.jpg Harga Pertamax Seharusnya Naik Jadi Rp11.100 per Liter (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga BBM jenis Pertamax seharusnya naik menjadi Rp11.000 per liter. Hal ini mengingat harga minyak dunia yang terus naik. Tapi di sisi lain, PT Pertamina (Persero) hingga saat ini belum menaikkan harga Pertamax.

Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan yang signifikan dimana sempat menyentuh tertinggi untuk minyak berjangka jenis Brent di level USD77,16 per barel pada awal bulan 5 Juli 2021 yang merupakan tertinggi dalam 3 tahun terakhir.

Lalu bagaimana hitung-hitungan kenaikan harga Pertamax?

Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, naiknya harga minyak dunia serta kenaikan MOPS, SPBU swasta yang beroperasi di Indonesia sudah beberapa kali mengalami kenaikan harga BBM.

Baca Juga: Rugi Jual Pertamax, Sinyal Pertamina Naikkan Harga BBM 

Kenaikan harga BBM SPBU swasta ini cukup signifikan mengingat ruang mereka untuk itu diatur dalam KepMen ESDM Nomor 62/2020 tersebut, di mana periode tanggal 25 pada dua bulan sebelumnya, sampai dengan tanggal 24 satu bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.

Jika melihat rata-rata MOPS MOGAS 92 untuk 3 bulan terakhir di mana bulan April 2021 adalah USD71,7, Mei USD74,32 dan Juni 2021 adalah USD78,85, sehingga rata-rata 3 bulan terakhir adalah USD74,95 per barel. Belum lagi landed cost sebesar USD2 per barel maka harga landed Pertamax adalah USD76,95.

"Dengan menggunakan kurs rata-rata 3 bulan terakhir adalah Rp14.400 per USD, maka harga per liter adalah sebesar Rp6.969. Ditambah dengan konstanta sebesar Rp1.800 dan margin 10% maka harga sebelum pajak adalah sebesar Rp9.646/liter. Jika ditambah dengan PPN dan PBBKB maka harga Pertamax adalah sebesar Rp11.093, dibulatkan menjadi Rp11.100," kata Mamit di Jakarta, Senin (19/7/2021).

Menurut Mamit, jika mengacu kepada harga saat ini, maka Pertamina sudah mengalami kerugian sebesar Rp2.100 per liternya, dihitung dengan formula yang ditetapkan dengan KepMen ESDM 62/2020 tersebut.

Begitu juga untuk jenis Pertalite, jika mengacu kepada harga MOPS MOGAS 92 bulan untuk 3 bulan terakhir, dengan formula sesuai KepMen 62/2021, di mana untuk RON 90 formulanya adalah 99,21% dari MOPS Mogas 92, maka seharusnya harga Pertalite adalah Rp11.000 per liter, sedangkan saat ini Pertamina menjual dengan harga Rp Rp7.650 per liter, di mana ada selisih kekurangan sebesar Rp3.350 per liternya.

"Kondisi ini jelas memberatkan bagi Pertamina, di tengah pandemi covid-19 yang masih belum selesai di Indonesia," katanya.

Pembatasan mobilitas masyarakat berpengaruh terhadap penjualan BBM milik Pertamina jika pembatasan ini akan berlangsung cukup lama.

Belum lagi, sebagai negara yang sudah menjadi net importir, maka Pertamina harus mengimpor minyak mentah maupun produks di tengah harga yang tinggi ini.

Hal ini bisa dipastikan akan membahayakan keuangan Pertamina karena harga beli yang tinggi tetap harga jual tidak mengalami kenaikan.

"Oleh karena itu, perlu kiranya pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM untuk sedikit memberikan kelonggaran bagi Pertamina menyesuaikan harga BBM non subsidi mereka," katanya.

Sebagai perbandingan, saat ini harga BBM milik SPBU Swasta yaitu Shell harga untuk jenis Super (Ron 92) Rp10.580, V-Power (Ron 95) Rp11.050, Reguler (Ron 90) Rp10.520, dan Diesel Rp10.380.

Harga BBM Pertamina Pertalite (Ron 90) Rp7.650, Pertamax (Ron 92) Rp9.000, Pertamax Turbo (Ron 98) Rp9.850 dan Pertamina Dex Rp10.200.

Sebelumnya, PT Pertamina belum melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM), meski harga minyak dunia terus naik.

Kenaikan harga minyak dunia pun mendorong naik harga minyak acuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini berpotensi membuat Pertamina merugi.

"Saat ini Pertamina masih mengevaluasi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap harga jual BBM kami," kata Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Sub Holding Commercial and Trading Putut Andriatno saat dihubungi, Kamis (17/6/2021).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini