JAKARTA – PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) mencatat penjualan Rp5,88 triliun pada kuartal III-2021. Penjualan tersebut naik 16,48% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp5,04 triliun.
Peningkatan penjualan ini didorong oleh penjualan semen dan terak yang mencapai Rp5,55 triliun, naik 17,77% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,71 triliun.
Sementara penjualan beton siap pakai CMNT tercatat turun 0,52% menjadi Rp381 miliar, dari Rp383 miliar secara tahunan.
Meningkatnya penjualan perseroan juga turut meningkatkan beban pokok penjualan perseroan 9,10% menjadi Rp4,15 triliun, dari Rp3,81 triliun. Meski pos beban naik, produsen semen dengan jenama Merah Putih ini masih mampu membukukan pertumbuhan laba bruto 39,24% menjadi Rp1,72 triliun, dari Rp1,23 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).
Dengan kinerja tersebut, CMNT mampu mencetak pertumbuhan laba periode berjalan sebesar Rp333,7 miliar. Laba periode berjalan ini meroket 6.995% dibandingkan dengan kuartal III/2020 yang hanya sebesar Rp4,7 miliar. Hingga kuartal III/2021, CMNT membukukan penurunan jumlah aset dari Rp19 triliun di akhir Desember 2020, menjadi Rp18,9 triliun di akhir September 2020.
Jumlah liabilitas perseroan juga tercatat turun menjadi Rp14,6 triliun di 30 September 2021, dari Rp16,3 triliun di 31 Desember 2020. Jumlah liabilitas jangka pendek sebesar Rp8,85 triliun dan jumlah liabilitas jangka panjang sebesar Rp5,76 triliun. Adapun jumlah ekuitas perseroan tercatat naik menjadi Rp4,29 triliun di sembilan bulan pertama 2021, dari Rp2,74 triliun sepanjang 2020.
Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan penjualan semen bisa tumbuh setidaknya 20% tahun ini.
Junarto Agung, Head of Investor Relations Cemindo Gemilang seperti dikutip kontan pernah bilang, selain menjual semen, pihaknya juga berfokus mengekspor klinker ke negara-negara seperti Bangladesh dan China.
Volume penjualan klinker pada tahun 2020 sebesar 3,2 juta ton. Demikian dikutip dari Harian Neraca, Rabu (3/11/2021).
Tahun ini, CMNT menargetkan penjualan klinker tumbuh sekitar 20%.
Junarto merinci, ada banyak faktor yang mempengaruhi penjualan semen tahun ini, baik di Indonesia maupun Vietnam. Di antaranya yakni faktor pandemi Covid-19, pengeluaran/anggaran di sektor infrastruktur, hingga pasar properti.
Namun, mengingat adanya faktor musiman di industri semen, Junarto mengatakan penjualan di semester kedua akan lebih tinggi. Penjualan ini terangkat permintaan yang juga akan lebih tinggi.
“Kami meyakini peningkatan permintaan dari proyek infrastruktur dan kelanjutan aktivitas konstruksi tetap menjadi pendorong utama kinerja kami di semester kedua 2021,”ujarnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.