Harga Minyak Turun hingga 3,3% Tertekan Inflasi AS

Antara, Jurnalis · Kamis 11 November 2021 06:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 11 320 2499965 harga-minyak-turun-hingga-3-3-tertekan-inflasi-as-ODg4CUgzJI.jpg Harga Minyak Dunia Anjlok. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Harga minyak turun karena terpukul lonjakan dolar setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan sedang mencari cara mengurangi biaya energi di tengah lonjakan inflasi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun USD2,14 atau 2,5% menjadi USD82,64 per barel. Kontrak Brent mencapai level tertinggi di USD85,50 per barel pada sesi tersebut sebelum turun kembali.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun USD2,81 atau 3,3% menjadi USD81,34 per barel, setelah mencapai tertinggi USD84,97 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan: Untungnya Tipis

Minyak mentah berjangka Brent dan WTI turun tajam pada akhir sesi karena pedagang menjual aset-aset berisiko, termasuk saham dan komoditas. Hal tersebut didorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mengambil langkah-langkah untuk menahan kenaikan harga.

Data inflasi konsumen menunjukkan harga-harga barang di AS naik 6,2%. Ini tingkat tertinggi dalam tiga dekade dan dapat memacu Gedung Putih dan Federal Reserve AS mengambil tindakan guna mencegahnya. Itu mendorong dolar, yang sering diperdagangkan terbalik dengan minyak.

"Tidak diragukan lagi, ada lebih banyak tekanan pada pemerintah setelah angka inflasi hari ini. Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa Fed mungkin harus kembali bertindak lebih agresif pada kenaikan suku bunga, sehingga membuat dolar menguat," ujar Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Antara, Kamis (11/11/2021).

Baca Juga: Brent Dijual USD84,7/Barel, Harga Minyak Sudah Naik hingga 60%

Inflasi naik karena hambatan ekonomi dari gelombang musim panas infeksi Covid-19 menurun dan kemacetan pasokan terus berlanjut. Federal Reserve pun diperkirakan akan mencoba untuk mencegah kenaikan harga-harga yang sedang berlangsung, yang telah berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula.

Itu memicu reli dolar, yang melemahkan harga minyak karena meningkatkan biaya bagi negara lain sebab minyak sebagian besar ditransaksikan dalam dolar.

Sementara itu, Preside AS Joe Biden meminta Dewan Ekonomi Nasional untuk bekerja mengurangi biaya-biaya energi dan Komisi Perdagangan Federal untuk mendorong kembali manipulasi pasar di sektor energi dalam upaya yang lebih besar untuk membalikkan inflasi.

"Komentar itu menyebabkan pasar melemah," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho, Bob Yawger.

Secara terpisah, persediaan minyak mentah AS juga naik 1 juta barel dalam minggu terakhir, jauh dari perkiraan untuk peningkatan 2,1 juta dalam stok minyak mentah.

Beberapa pedagang mengatakan pada Rabu (10/11/2021) bahwa harga-harga dapat terus naik dalam beberapa bulan mendatang, tetapi mencatat juga bahwa reli yang sedang berlangsung dapat memacu lebih banyak produksi industri serpih yang akan mengimbangi permintaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini