Investasi Mobil Listrik Vietnam USD5,4 Miliar, Indonesia Jangan Ketinggalan

Antara, Jurnalis · Rabu 24 November 2021 15:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 320 2506736 investasi-mobil-listrik-vietnam-usd5-4-miliar-indonesia-jangan-ketinggalan-Gg20Wl2rtZ.jpg Investasi kendaraan listrik di Indonesia jangan sampai ketinggalan dari negara tetangga (Foto: Freepik)

JAKARTA - Pengembangan kendaraan listrik di Indonesia harus dipercepat. Indonesia perlu akselerasi ekosistem kendaraan listrik dan mewaspadai pengembangan mobil listrik di negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu negara di Asia Tenggara yang cukup agresif adalah Vietnam yang mulai memproduksi mobil nasional (mobnas) bertenaga listrik VinFast dengan total investasi USD5,4 miliar dan siap dipasarkan di Indonesia.

Baca Juga: Harga Mobil Listrik Mau Murah? Ini Saran dari Bos PLN

“Sebenarnya, saat ini tidak ada yang perlu diragukan dałam mengembangkan kendaraan listrik di Tanah Air, karena pemerintah sudah sangat jelas membuat roadmap industri ini. Namun, kalau tidak agresif Indonesia bisa tertinggal. Padahal kita memiliki pasokan bahan baku baterai mobil listrik yang melimpah," kata Pengamat otomotif Bebin Djuana, Selasa (24/11/2021).

Menurutnya, mobil listrik ini merupakan kendaraan masa depan. “Saya pikir akan menjadi sebuah peluang baru bagi industri otomotif Indonesia. Pemerintah juga mesti aktif mengajak pihak swasta dalam mengembangkan kendaraan listrik di tanah air, sehingga ekosistem saling terhubung,” ujarnya.

Aksi yang dibutuhkan saat ini, adalah dengan mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir. Termasuk di dalamnya menyediakan industri komponen penunjang, terutama baterai.

Baca Juga: Menko Airlangga Akui Mobil Listrik Lebih Mahal 40%

Pemerintah juga perlu menyusun skenario untuk mengimbangi penetrasi pasar oleh Vietnam tersebut. Salah satunya adalah dengan membuka bisnis penyewaan baterai untuk menunjang eksistensi lalu lintas mobil listrik.

“Saat ini sejumlah negara sudah mulai serius untuk menanamkan investasi di sektor kendaraan listrik, seperti Korea melalui Hyundai. Produsen otomotif itu aktif dan justru menjadi perintis memproduksi mobil listrik di Indonesia. Ini saya lihat bisa menjadi trigger,” katanya.

Untuk menjadi pemicu, perlu diarahkan para pemain-pemain lama yang sudah malang melintang dalam industri otomotif di Indonesia seperti merek-merek dari negeri Sakura.

“Korea sudah lompat ke listrik tapi Jepang justru ingin mengembangkan mobil hybrid yang bagus. Saya pikir pada tahun depan akan semakin banyak lagi pemain mobil listrik yang bakal masuk Indonesia, karena kita jelas punya daya tarik yang sudah mendunia," katanya.

Kesiapan Indonesia memasuki era mobil listrik disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengatakan bahwa mobil listrik dari Indonesia akan bermunculan pada 2 -3 tahun mendatang atau 2023-2024, karena hilirisasi nikel di dalam negeri yang menghasilkan katoda baterai, besi antikarat dan juga baterai litium akan dilakukan.

“Tiga tahun lagi, dua sampai tiga tahun lagi, yang namanya mobil listrik bermunculan dari negara kita,” kata Presiden.

Presiden Jokowi mengatakan dirinya sudah memerintahkan tidak ada lagi ekspor nikel dalam bentuk mentah. Nikel merupakan komoditas bahan baku yang dapat diolah menjadi katoda baterai, besi antikarat dan juga baterai litium, yang merupakan komponen penting dalam struktur industri otomotif, termasuk manufaktur mobil listrik.

Presiden menekankan Indonesia tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah dari nikel, termasuk juga dari sumber daya alam lainnya seperti bauksit dan tembaga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini