Share

Kaleidoskop 2021: Perjalanan Ekonomi Indonesia Berhasil Keluar dari Resesi

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Selasa 28 Desember 2021 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 27 320 2523209 kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi-5PSyOUQpE2.jpeg Ekonomi Indonesia keluar dari resesi (Foto: Shutterstock)

JAKARTAEkonomi Indonesia berhasil keluar dari zona resesi. Adapun sejak kuartal II-2020 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berada di zona negatif.

Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia dan dunia sejak awal 2020. Pandemi covid-19 membuat berbagai sektor penggerak ekonomi menjadi terhambat.

Akan tetapi, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin mencari jalan keluar optimal untuk menangani pandemi Covid-19 yakni dengan strategi mempertahankan keseimbangan antara penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Seiring dengan berjalannya waktu, strategi ini terbukti memperoleh hasil relatif baik.

Baca Juga: BI Yakinkan Investor China soal Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2022

“Persentase kasus aktif Indonesia sampai dengan 1 September 2021 tercatat turun -57,73% sejak penerapan PPKM leveling 9 Agustus 2021 lalu. Sementara itu, kondisi kesembuhan juga menunjukkan angka yang baik, yaitu 92,12% dibandingkan global 89,41%, meskipun kita masih perlu memperbaiki untuk tingkat kematian nasional yang masih lebih tinggi dari rata-rata global, yaitu 3,26 % dibanding global 2,07%,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Indonesia pun turun kelas menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah. Penyebabnya, karena pandemi Covid-19 dan resesi yang belum teratasi.

Baca Juga: Ramalan IMF hingga World Bank soal Ekonomi Indonesia 2022, seperti Apa?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih terkontraksi, yaitu berada di angka -0,74% secara year on year (yoy). Kondisi ini tentunya belum bisa membawa Indonesia keluar dari zona resesi.

Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 diproyeksi mencapai 6,4%. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksikan estimasi ekonomi RI di kisaran 6,2% sampai 6,7%.

“Kami memperkirakan Indonesia akan keluar dari resesi pada kuartal II-2021,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.

Teuku menyatakan, aktivitas ekonomi pada kuartal II-2021 relatif cukup kuat akibat beberapa faktor seperti pelonggaran peraturan pembatasan sosial, stimulus pemerintah, serta periode Ramadhan dan Idul Fitri.

Dia menjelaskan, memasuki kuartal II sebagai indikasi pemulihan ekonomi yang signifikan, kinerja kredit meningkat tajam sepanjang April dan Mei 2021 terutama didorong oleh peningkatan kredit modal kerja dan kredit investasi.

Menurutnya, pertumbuhan positif pada kredit konsumsi dan akselerasi inflasi inti menunjukkan daya beli mulai pulih meskipun konsumen masih enggan berbelanja.

Kemudian, Indonesia juga terus mencatatkan surplus perdagangan selama 13 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu di tengah awal gelombang kedua pandemi Covid-19 hingga Juni 2021.

Namun, nyatanya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 melebihi ekspektasi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 % lebih tinggi dari sejumlah negara lain di tengah lonjakan kasus harian Covid-19.

“Jadi kalau untuk (pertumbuhan ekonomi) Indonesia dibandingkan negara lain masih tergolong moderat,” kata Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Webinar Outlook Perekonomian Global dan Indonesia oleh Bappenas di Jakarta.

Amalia menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2021 juga berhasil mendorong Indonesia ke luar dari zona resesi. Menyusul awetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berada di zona negatif sejak kuartal II-2020 lalu.

“Capaian triwulan (II) tersebut membuat Indonesia terlepas dari resesi di tengah ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi yang dipicu oleh peningkatan kasus harian Covid-19 belakangan ini,” ujarnya.

Meski begitu, dia meminta seluruh pemangku kepentingan agar tidak terlena atas keberhasilan mencapai target pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun ini. Di antaranya dengan terus meningkatkan kolaborasi dalam berbagai skenario untuk menjaga perekonomian Indonesia terus berada di zona positif.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 yang berhasil tumbuh 7,07% secara year on year (yoy), didukung oleh beberapa sektor.

Lima sektor usaha memberikan kontribusi 64,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2021. Usaha tersebut di antaranya, yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

“Artinya pergerakan ekonomi pada sektor-sektor ini lah yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” kata Kepala BPS Margo Yuwono.

Kelima sektor pendorong PDB pada triwulan II-2021 ini mengalami pertumbuhan positif yaitu sektor industri sebesar 6,58%, pertanian 0,38% perdagangan 9,44% konstruksi 4,42% dan pertambangan 5,22%.

Untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 0,38% dipengaruhi oleh meningkatnya produksi perikanan budidaya dan produksi tangkap sehingga mampu tumbuh 9,69%.

Hal itu juga didukung oleh peternakan yang tumbuh 7,07 % seiring meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan sedangkan tanaman hortikultura tumbuh 1,84%, karena meningkatnya permintaan komoditas sayuran dan buah-buahan.

Selanjutnya untuk sektor lapangan usaha perdagangan yang tumbuh 9,44% didorong oleh adanya peningkatan sebesar 37,88% pada perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya seiring program relaksasi PPnBM.

Tak hanya lima sektor penunjang utama PDB triwulan II-2021 tersebut, seluruh sektor lapangan usaha juga mengalami pertumbuhan positif selama triwulan ini dengan yang paling tinggi adalah transportasi dan pergudangan mencapai 25,1%.

Pertumbuhan sektor lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang sebesar 25,1% terjadi, karena adanya peningkatan pergerakan penumpang pada semua moda transportasi umum serta bongkar muat ekspor dan impor.

Kemudian disusul oleh sektor lapangan usaha akomodasi dan makan minum yang tumbuh sebesar 21,58% meliputi 45,07% untuk penyediaan akomodasi serta 17,88% untuk penyediaan makanan dan minuman.

Pertumbuhan tersebut terjadi seiring adanya relaksasi kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat, peningkatan kunjungan wisatawan lokal, serta peningkatan tingkat hunian kamar hotel yang mencapai 38,55%.

Sementara, untuk sektor lapangan usaha lainnya meliputi jasa kesehatan tumbuh 11,62%, jasa perusahaan 9,94%, administrasi pemerintahan 9,49% dan pengadaan listrik dan gas 9,09%%.

Selanjutnya sektor lapangan usaha jasa keuangan tumbuh sebesar 8,35%, infokom 6,87%, pengadaan air 5,78%, jasa pendidikan 5,72% dan real estat 2,82%.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini