Teuku menyatakan, aktivitas ekonomi pada kuartal II-2021 relatif cukup kuat akibat beberapa faktor seperti pelonggaran peraturan pembatasan sosial, stimulus pemerintah, serta periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Dia menjelaskan, memasuki kuartal II sebagai indikasi pemulihan ekonomi yang signifikan, kinerja kredit meningkat tajam sepanjang April dan Mei 2021 terutama didorong oleh peningkatan kredit modal kerja dan kredit investasi.
Menurutnya, pertumbuhan positif pada kredit konsumsi dan akselerasi inflasi inti menunjukkan daya beli mulai pulih meskipun konsumen masih enggan berbelanja.
Kemudian, Indonesia juga terus mencatatkan surplus perdagangan selama 13 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu di tengah awal gelombang kedua pandemi Covid-19 hingga Juni 2021.
Namun, nyatanya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 melebihi ekspektasi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 % lebih tinggi dari sejumlah negara lain di tengah lonjakan kasus harian Covid-19.
“Jadi kalau untuk (pertumbuhan ekonomi) Indonesia dibandingkan negara lain masih tergolong moderat,” kata Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Webinar Outlook Perekonomian Global dan Indonesia oleh Bappenas di Jakarta.
Amalia menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2021 juga berhasil mendorong Indonesia ke luar dari zona resesi. Menyusul awetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berada di zona negatif sejak kuartal II-2020 lalu.
“Capaian triwulan (II) tersebut membuat Indonesia terlepas dari resesi di tengah ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi yang dipicu oleh peningkatan kasus harian Covid-19 belakangan ini,” ujarnya.