Share

Periskop 2022: Cermat Kelola Keuangan agar Tak Boncos

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Rabu 05 Januari 2022 07:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 04 622 2527161 periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos-cWpSVqLAfZ.jpg Tips mengelola keuangan di tahun baru (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia masih menghadapi ketidakpastian akibat situasi pandemi covid-19 tak berkesudahan. Meski jutaan dosis vaksin telah disuntikkan kepada masyarakat, kemunculan berbagai varian baru mau tak mau membuat Indonesia harus waspada akan adanya lonjakan kasus Covid-19.

Sebagaimana yang telah diketahui bersama, Juli 2021 lalu Indonesia mengalami mimpi buruk akibat penyebaran Covid-19 varian Delta. Masa itu belum banyak masyarakat yang mendapatkan dosis vaksinnya. Akibatnya, ratusan ribu nyawa harus gugur.

Hilangnya anggota keluarga berarti tatanan hidup ikut berubah pula. Sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan edukasi keuangan dengan baik. Akibatnya, banyak masyarakat yang belum siap secara finansial menjalani kehidupan barunya.

Baca Juga: Periskop 2022: Deretan Bisnis yang Menjanjikan Tahun Ini

Oleh karena itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho memberikan sejumlah tips mengelola keuangan untuk menghadapi situasi ini. Menurutnya, rencana keuangan itu ibaratkan strategi dalam permainan sepak bola.

“Ibaratnya main bola, ada yang pakai strategi beda-beda,” ucapnya kepada Okezone, Jakarta.

Dengan rencana keuangan, masyarakat akan lebih tahu untuk pos apa saja uang mereka dihabiskan. Dia sendiri menyarankan untuk menggunakan strategi 55:10:10:10:10:5. Lalu, terbagi ke dalam pos apa sajakah strategi itu? Simak rinciannya di bawah ini.

- 55% untuk kebutuhan sehari-hari

Pos dengan anggaran terbesar menurut versi Andy adalah kebutuhan sehari-hari. Pada pos ini, pembayaran cicilan juga termasuk. Zaman sekarang, masyarakat memiliki cicilan rumah atau kendaraan yang sifatnya bulanan.

Baca Juga: Periskop 2022: Indonesia Siap Produksi 2 Vaksin Covid-19

- 10% untuk dana darurat

Pos selanjutnya yaitu dana darurat dengan persentase 10%. Jika bisa, jumlah dana darurat yang disimpan masyarakat jumlahnya tiga kali lipat lebih besar dari gaji.

“Dana darurat idealnya tiga kali gaji. Sementara kita menyisihkan 10% dari gaji misal gaji kita 5 juta. Berarti nabung 500 ribu. Artinya dana darurat 15 juta. Jangankan 15 juta, menyisihkan 500 ribu jadi 15 juta aja lama, 30 bulan masih lama,” papar dia.

Maka dari itu, Andy sangat menyarankan masyarakat menyisihkan dana darurat untuk membayar premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan ataupun asuransi kesehatan lainnya. Saat memiliki jaminan kesehatan, biaya perawatan pihak tertanggung akan secara otomatis dibayarkan oleh pihak asuransi.

“Dana darurat ini bisa diwujudkan dalam asuransi kesehatan atau premi BPJS. Karena dengan kondisi sekarang yang kita rentan sakit dan kalaupun sakit pasti butuh banyak biaya daripada penghasilan kita. Daripada penghasilan kita lebih habis lagi untuk berobat, mending untuk bayar premi BPJS, lah, minimal atau premi asuransi kesehatan,” imbuh Andy.

Jika masyarakat ingin menyimpan dana darurat berupa uang tunai pun sah-sah saja menurutnya. Kembali ke situasi jika seseorang jatuh sakit dan harus dirawat inap, berbagai kebutuhan seperti transportasi dan kebutuhan orang yang merawat tetap membutuhkan dana tunai.

“Tapi kalau kita dirawat ke rumah sakit kan kita tetap butuh uang transport lah, atau orang yang nungguin kita sakit: makannya dia, penginapannya dia. Dari mana dapet uangnya? Ya dari dana darurat itu tadi. Jadi mungkin dana daruratnya bisa dibagi dua, pertama untuk bayar premi asuransi kesehatannya atau BPJS dan kedua untuk pegangan cash-nya kita,” paparnya.

- 10% untuk ditabung/diinvestasikan

Persentase 10% selanjutnya dialokasikan untuk pos yang tak kalah pentingnya, yaitu tabungan atau investasi. Masyarakat Indonesia yang cenderung mencari aman masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan asetnya.

“Kalau melihat dari kondisi saat ini, orang masih banyak yang cenderung wait and see. Dana deposan di bank kan makin banyak aja. Cuma kalau saya melihatnya adalah dengan tergantung bagaimana pada pemerintah bisa mengendalikan Covid ini. Kalau saya, sih, melihatnya Indonesia sekarang bagus banget dengan Q3 yang udah positif,” kata Andy.

Kabar baiknya, masyarakat Indonesia kini telah lebih melek investasi. Hanya saja, hal yang masih disayangkan Andy adalah keinginan masyarakat agar mendapatkan imbal hasil besar dengan cepat. Pola ini sering kali membuat masyarakat kurang memperhatikan risiko yang menanti di kemudian hari.

“Kalau yang saya perhatikan selama pandemi ini adalah temen-temen milenial ini mulai demam investasi terutama kripto. Saya bilang sih enggak salah. Ya, asalkan jangan asal, tapi harus dianalisa dulu terutama risikonya. Jangan hanya dilihat imbal hasil,” pesan Andy.

Jika masih tetap ingin berinvestasi, dia menyarankan agar masyarakat mencoba investasi saham, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk ritel, atau reksadana saham. Menurutnya, investasi-investasi tersebut dapat memberikan imbal hasil yang besar dengan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan kripto.

- 10% untuk me time

Kebutuhan me time atau yang kini lebih populer dengan istilah healing masih dianggap sepele oleh beberapa orang. Namun, Andy menyarankan masyarakat untuk menyisihkan 10% gajinya untuk hal ini. Menurutnya, melakukan me time adalah wujud apresiasi kepada diri yang telah bekerja keras selama ini.

“Untuk healing, boleh atau ga boleh? Boleh banget. Saya menyarankan karena kita udah bekerja keras setelah sekian lama,” ujar Andy.

Sebagai catatan, Andy mewanti-wanti masyarakat untuk tetap mengatur diri agar pengeluaran tak jadi membengkak. Hal ini juga akan mencegah diri untuk memakai uang dari pos tabungan atau investasi.

“Healing boleh ga? Harus banget. Cuma, gitu ya, healing-nya diatur dong, kontrol dong. Jangan seminggu sekali healing. Kemudian sekalinya healing ke Bali, Raja Ampat, Paris. Duitnya dari mana? Yang kemarin ditabung? Wah itu jadi masalah,” kata dia.

- 10% untuk upgrade skill

Rencana keuangan versi Andy bahkan menganjurkan agar masyarakat dapat menyisihkan 10% penghasilannya untuk meningkatkan kemampuan. Tujuannya tak lain agar ada tambahan penghasilan dari kemampuan tersebut yang dapat dilakukan di luar waktu kerja.

- 5% untuk beramal

Alokasi keuangan terakhir yaitu dana untuk beramal sebesar 5%. Dana tersebut dapat disalurkan melalui platform donasi yang sudah banyak tersedia di internet. Di situasi seperti ini, ada banyak saudara sesama makhluk hidup yang membutuhkan pertolongan.

- Alternatif strategi keuangan

Strategi keuangan lain yang dapat digunakan masyarakat adalah strategi yang sudah umum disarankan, yaitu 50:30:20. Strategi ini membagi keuangan ke dalam tiga pos, yaitu kebutuhan, keinginan, dan tabungan/investasi. Menurut Andy, strategi keuangan ini juga masih bisa relevan karena kondisi keuangan setiap orang yang berbeda-beda.

“Untuk strategi 50:30:20 kalau dibilang masih relevan, ya masih relevan. Kenapa alasannya? Alasannya adalah memang itu kita jadikan patokan atau sebagai guidance untuk membelanjakan uang yang kita miliki. Nah, nantinya kita punya gambaran sudah mengeluarkan uang untuk pos-pos apa saja sih?” paparnya.

- Kebiasaan finansial yang harus dibangun di 2022

Agar kondisi keuangan 2022 lebih sehat, Andy menyarankan masyarakat untuk belajar menahan diri dari pengeluaran yang bisa dihindari, misalnya bersenang-senang. Dia memahami betul bahwa rasa bosan sudah dialami oleh banyak orang. Namun, keadaan mengharuskan kita lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

“Jangan sampai dengan alasan kita udah bosen, terus kita menghabiskan banyak uang untuk jalan-jalan. Pertama pasti akan menghabiskan banyak pendapatan kita, terus kemungkinan terpapar virus akan menjadi lebih besar,” jelasnya.

Selain itu, tes antigen yang menjadi syarat jika seseorang hendak bepergian juga akan memengaruhi keuangan. Jika dilakukan terlalu sering, hal ini tentu bisa membuat kantong jadi boncos.

“Dengan masih adanya Covid, akan adanya pengeluaran-pengeluaran yang mungkin akan menjadi bumerang dalam tanda kutip bisa kita hindari, misal kita harus tes antigen. Ya jangan sampai kita habis banyak hanya untuk antigen yang sudah jadi kewajiban,” imbuh dia.

Oleh karena itu, Andy mengimbau masyarakat untuk lebih mengatur lagi gaya hidupnya. Akan lebih baik jika masyarakat menyesuaikannya dengan budget yang tersedia. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengalami kondisi keuangan yang merugikan di kemudian hari, misalnya menggunakan paylater.

“Atau bela-belain sampai harus pakai paylater. Nah itu yang kurang baik. Kenapa? Karena itu tadi, kita masih dalam kondisi seperti ini, kita tetap harus waspada. Kita jangan sampai sakit, lho. Kalau kita sakit, jadi bangkrut. Enggak punya duit lagi, enggak bisa berobat gara-gara duit kita habis untuk healing ini tadi. Jadi healing itu boleh atau enggak, perlu atau enggak, perlu banget. Cuma diatur aja sesuai budget kita,” pungkas Andy.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini