Share

Periskop 2022: Deretan Bisnis yang Menjanjikan Tahun Ini

Erlinda Septiawati, Okezone · Selasa 04 Januari 2022 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 03 455 2526731 periskop-2022-deretan-bisnis-yang-menjanjikan-tahun-ini-U76QJxW7XL.jpg Bisnis Menjanjikan di 2022 (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA – Pergantian tahun seolah momentum yang baik untuk memulai sesuatu yang baru, termasuk berbisnis. Tahun 2022 menjadi wadah peluang bisnis dalam memutar pundi-pundi cuan yang mesti dilakukan.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi Mike Rini mengatakan pertumbuhan beberapa sektor industri bisnis pada tahun 2022 dipengaruhi oleh perilaku konsumen dan adaptasi kebiasaan baru pasca pandemi Covid-19.

“Kalau dilihat dari kebutuhan atau pergerakan dari perubahan customer behaviour. Bagaimana orang mendapatkan kebutuhan-kebutuhannya atau pembelanjaannya. Maka, saya kira perubahannya itu memang didorong dengan adanya adaptasi kebiasaan baru karena pandemi Covid-19,” ujar Mike Rini kepada Okezone, Selasa (4/1/2022).

Baca Juga: 5 Sumber Kekayaan Madam Pang, Manajer Timnas Thailand dari Keluarga Miliarder Rp14,3 Triliun

Mike menyebutkan salah satu bisnis yang dapat bertahan yakni sektor retail. Sebab, pada retail tersedia sarana yang dapat melayani hingga proses mendistribusikan produk barang dan jasa dengan berbagai aktivitas perdagangan.

“Bisnis-bisnis yang bertahan dan tetap memberikan peluang di tahun depan itu yang memang dia berbasis antara lain kalau dari perkiraan saya itu adalah pertama retail,” katanya.

Kemudian, produk retail banyak dicari dan digunakan oleh konsumen. Hal ini termasuk dalam kategori industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG).

Di samping itu, pelaku bisnis retail juga menawarkan berbagai produk yang termasuk FMCG, seperti makanan, minuman kemasan, hingga sembilan bahan pokok (Sembako).

Baca Juga: Madam Pang Ternyata Keluarga Orang Terkaya di Thailand, Punya Harta Rp14,3 Triliun

“Jadi industri retail, FMCG itu biasanya dia bertahan di dalam segala situasi. Jadi baik dalam perusahaan besar, korporasi maupun UMKM,” jelasnya.

Baca Juga: KKP Selamatkan Kerugian Negara Sebesar Rp30 Miliar dari Tindak Penyelundupan BBL

Selain retail, ada juga sektor kesehatan yaitu terkait bidang farmasi. Disebabkan kebutuhannya masih akan terus mengalami peningkatan. Mike memprediksi pada tahun 2022 menjadi sektor industri yang dibutuhkan dalam jumlah banyak.

“Kemudian juga saya kira terkait dengan pandemi, industri kesehatan. Salah satu di dalamnya itu adalah farmasi atau obat-obatan, kemungkinan di tahun 2022 juga kebutuhan masih tetap akan tinggi,” tutur Mike.

Lebih lanjut, dia berujar bahwa sektor edukasi juga masih tetap bertahan lantaran adanya perubahan perilaku masyarakat perihal penyelenggaraan aktivitas belajar mengajar, yakni sistem pembelajaran yang dilakukan secara online atau jarak jauh.

Sehingga bisnis yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar tatap maya/virtual memiliki tingkat permintaan yang bertahan bahkan bisa bertambah.

“Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar secara virtual, secara jarak jauh, online itu kemungkinan juga memiliki tingkat demand yang tetap masih akan sustain bahkan bertambah karena adanya adaptasi kebiasaan baru di tahun 2022 nanti,” pungkas dia.

Lalu, sektor transportasi dan logistik yang saat ini masih banyak diperlukan. Apalagi penerapan protokol kesehatan yang mengharuskan aktivitas di luar beralih dilakukan dari rumah. Sehingga dibutuhkan jasa layanan untuk bisa menghubungkan dengan dunia luar agar terpenuhi kebutuhan.

“Jadi transportasi, logistik juga akan kebutuhan itu tetap akan stabil bahkan mungkin meningkat di tahun 2022 sejalan dengan adaptasi kebiasaan baru dari masyarakat dengan adanya protokol kesehatan yang perlu dilaksanakan,” tambahnya.

Ada pula, sektor keuangan karena sepanjang masa pandemi hingga kini terjadi perubahan pola belanja maupun pola pengeluaran masyarakat. Dimana ada pengeluaran yang sebelum pandemi itu tidak ada, berganti ada. Sebaliknya, ternyata juga ada yang justru pengeluarannya menurun.

Hal tersebut menjadi alasan terdapat golongan masyarakat yang memiliki pemasukan lebih (surplus) daripada kebutuhannya. Dirinya pun menambahkan biasanya surplus keuangan ini sebelum pandemi digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya entertainment/hiburan/staycation.

Dengan demikian, ketika terjadinya surplus masyarakat mulai terbiasa dengan adaptasi digital. Semakin sering seseorang menggunakan aplikasi keuangan, tingkat kesadaran mengelola uang pun bisa menjadi pemicu.

“Dengan adanya surplus tadi, maka berbagai kebutuhan atau layanan yang memungkinkan yang memudahkan orang untuk menyimpan uangnya atau mengembangkan dananya juga mengalami peningkatan demand di tahun 2022,” imbuh dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini